Logo Bloomberg Technoz

“Dewan direksi mengumumkan bahwa PT Batamindo Investment Cakrawala, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh perseroan, telah menandatangani perjanjian fasilitas,” kata Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Eksekutif Gallant Venture Ltd Choo Kok Kiong lewat keterangan resmi, dikutip Selasa (3/11/2026).

Pembiayaan dari sejumlah bank nasional itu akan dijamin dengan mesin, peralatan, aset bergerak dan tanah milik proyek, piutang proyek serta klaim asuransi.

Jaminan juga mencakup pengikatan atas rekening-rekening transaksi, serta jaminan korporasi dan surat pernyataan kesanggupan (letter of undertaking) dari pihak penjamin.

Selain itu, BIC juga mengikat perjanjian obligasi konversi dengan Broadwood Holding Limited sebagai bagian dari keseluruhan rencana pendanaan proyek PLTU raksasa tersebut.

Broadwood Holding Limited berkomitmen untuk memesan obligasi konversi dengan jumlah pokok keseluruhan maksimal US$683,6 juta. Adapun, jatuh tempo obligasi ini 4 tahun sejak penerbitan.

Obligasi itu dapat dikonversi menjadi saham apabila terjadi peristiwa konversi atau conversion event. Saham konversi berupa saham biasa dengan nilai nominal US$1.000 per saham dalam modal BIC.

Adapun, harga konversi ditentukan berdasarkan pembagian jumlah pokok obligasi yang masih terutang dan akan dikonversi, setelah dikonversi menggunakan nilai tukar yang disepakati dengan harga konversi diskon 31,88% terhadap valuasi ekuitas BIC setelah memperhitungkan seluruh potensi dilusi.

Hanya saja, status obligasi merupakan kewajiban langsung, tanpa syarat, tidak subordinasi dan tanpa jaminan dari BIC.

Obligasi dapat dikonversi apabila BIC melantai di Bursa Efek Indonesia, SGX atau bursa lainnya. Selain itu, kejadian konversi dapat juga terjadi apabila Gallant Venture menjual saham BIC yang memerlukan persetujuan tertulis pemegang obligasi.

Manuver Salim

Putaran pendanaan awal afiliasi bisnis Grup Salim itu akan menutupi sebagian kebutuhan rencana ekspansi pembangkit di kawasan Pulau Setokok, Bulang, Batam tersebut.

Choo Kok Kiong mengatakan investasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat, terutama di kawasan industri Batam dan Bintan yang menjadi basis bisnis utama grup.

Dia juga menjelaskan bahwa lonjakan aktivitas industri, khususnya di sektor digital dan pusat data, telah memicu tekanan pada infrastruktur energi di Batam. 

“Margin cadangan listrik di Batam saat ini tidak mencukupi. Ini menyebabkan keterlambatan penyediaan energi bagi investor baru,” kata Choo.

BIC berencana membangun PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) senilai US$2,7 hingga US$3 miliar atau setara Rp43 triliun hingga Rp48 triliun. 

Fase pertama mencakup pembangunan tiga unit pembangkit batu bara superkritis berkapasitas masing-masing 350 MW beserta infrastruktur pendukung, yang akan membentuk bagian dari kompleks 2 GW di Pulau Setokok, Batam. Nilai investasi untuk tahap ini diperkirakan mencapai US$1,5 miliar. 

Sementara itu, fase kedua meliputi pembangunan dua unit tambahan pembangkit batu bara berkapasitas 600 MW, pembangkit listrik tenaga surya sebesar 400 MW, serta instalasi kabel bawah laut yang menghubungkan pasokan listrik ke fasilitas grup di Batam, Bintan, dan Bulan. Estimasi nilai investasi fase kedua berkisar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar.

Proyek ini sekaligus menandai langkah Grup Salim memperluas portofolio bisnisnya ke sektor pembangkit. Keterlibatan Grup Salim dalam proyek ini tak lepas dari kepemilikannya atas Gallant Venture. 

Anthoni Salim menggenggam 73,11% saham Gallant Venture melalui sejumlah entitas, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Entitas tersebut meliputi Parallax Holdings Limited (PHL) yang secara langsung menggenggam 53,76% saham Gallant Venture, River Point Venture Limited dengan kepemilikan langsung sebesar 12,3%, serta Dornier Profits Limited yang memiliki total 53,76% saham, terdiri dari kepemilikan langsung dan tidak langsung.

Selain itu, Parallax Venture Partners XXX Ltd (PVP) memiliki 12,03% saham secara tidak langsung, dan River Point sebesar 7,27% saham secara tidak langsung.

Manajemen Gallant Venture juga menyebut bahwa Anthoni Salim memiliki kepentingan atas saham yang dimiliki oleh PHL, PVP, River Point, dan Dornier, serta atas 3.106.688 saham milik PT Elitindo Cintralestari.

(naw)

No more pages