Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, meski BI Rate tidak naik, BI melakukan kebijakan pengetatan tambahan dengan menaikkan Deposit Facility 25 basis poin (bps) jadi 5%. Kenaikan ini meningkatkan insentif bagi bank untuk menempatkan dananya di BI. 

Dari pasar obligasi global pergerakan yield cukup beragam. Yield US Treasury terpangkas tipis 0,6 bps jadi 5,1%, diikuti dengan yield obligasi Australia 1,8 bps ke 5,25%, Selandia Baru 3,3 bps ke 4,98%. 

Akan tetapi, di pasar Asia sedikit tertekan. Yield obligasi China memang masih bisa bertahan di 1,62%, dan Korea Selatan 4,14%. Tapi, yield obligasi Jepang tercatat naik 1,3 bps jadi 2,88%.

Begitu juga Thailand dengan yield berada di 2,25%, diikuti Malaysia 3,79%, dan India 7,44%. Hanya Singapura yang pasar obligasinya stabil, yield turun 1,2 bps ke 2,33%. Diikuti Indonesia yang relatif stabil dengan penurunan yield obligasi 10 tahun 0,4 bps jadi 7,42% pagi ini 09.00 WIB. 

Penurunan yield dalam pasar obligasi artinya pelaku pasar memburu instrumen surat utang tersebut, dan melakukan aksi beli sehingga yield terpangkas. 

Perjalanan rupiah ke depan diperkirakan tidak mulus. Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai kebijakan BI menambah kerentanan rupiah. "Karena memperkuat kekhawatiran bahwa independensi bank sentral telah jauh berkurang setelah pergantian pimpinan yang dinilai terlalu dini, perluasan mandat, serta pengawasan parlemen yang semakin besar," kata Henderson. 

(dsp)

No more pages