Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tutup Perdagangan di Atas Rp18.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
21 October 2026 15:22

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup sesi perdagangan Rabu (21/10/2026) dengan depresiasi 0,1% ke Rp18.005/US$, setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI Rate di 5,75%. 

Rupiah sempat menguat kemarin. sehari sebelum pengumuman BI Rate. Namun setelah pengumuman, sepertinya pasar merespons lebih hati-hati sikap BI yang terlihat berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di pasar luar negeri, rupiah terdepresiasi 0,15% ke Rp18.052/US$ dibayangi adanya kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia jadi standalone market oleh MSCI. Meskipun belum diputuskan dan masih menjadi pertimbangan MSCI, arus keluar modal asing dari pasar saham terjadi sejak akhir pekan lalu.


Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg hingga pertengahan Oktober 2026, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat arus masuk modal asing sekitar US$2,4 miliar sepanjang tahun ini. Namun, arus modal yang keluar terlihat lebih besar, yakni sekitar US$5,2 miliar. 

Dengan mempertimbangkan tekanan yang ada, Bloomberg Economics memperkirakan rupiah di pasar spot akan bergerak di sekitar Rp18.000/US$. Meski begitu, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka, termasuk kemungkinan kembali menguji area tertinggi intraday tahun ini di Rp18.190/US$.