Logo Bloomberg Technoz

Jelang Pengumuman BI Rate: Rupiah Menguat, Yield Obligasi Naik

Tim Riset Bloomberg Technoz
21 October 2026 12:46

Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah berhasil mempertahankan posisinya di bawah Rp18.000/US$ jelang keputusan BI Rate siang ini, Rabu (21/10/2026), di tengah menguatnya tekanan arus modal keluar di pasar saham dan obligasi. 

Data Bloomberg pada 11:53 WIB menunjukkan rupiah bergerak di Rp17.977/US$, menguat terbatas 0,06%. Begitu juga dengan pergerakan rupiah di luar negeri bertahan di Rp18.016/US$, setelah sempat anjlok ke Rp18.092/US$ pada perdagangan kemarin. 

Rupiah spot berhasil mempertahankan posisi di bawah Rp18.000/US$ jelang keputusan BI Rate Oktober. (Bloomberg)

Terbatasnya penguatan rupiah ini dipicu oleh tekanan eksternal yang masih persisten. Harga minyak Brent tercatat US$110/barel, dan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali terapresiasi ke 101,77. Namun, posisi yield US Treasury sedikit terpangkas 2,1 bps jadi 5,11%, dari sebelumnya 5,13%, membawa angin segar bagi gerak mata uang di Asia. 


Dari kawasan, selain rupiah dolar Taiwan menguat paling tajam 0,45%, diikuti rupee India 0,41%, dan won Korea Selatan 0,19%. Sedangkan yen Jepang dan rupiah menguat lebih terbatas masing-masing 0,04% dan 0,06%, diikuti dolar Hong kong 0,01%.

Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,26%, bersama yuan offshore 0,04% dan dolar Singapura 0,02% juga yuan China 0,01%. 

Pergerakan mata uang Asia, Rabu (21/10/2026). (Bloomberg)