Logo Bloomberg Technoz

Ia menambahkan, posisi rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.500-17.700/US$ pada akhir kuartal III-2026 masih memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Namun pada November atau Desember, sepertinya kenaikan BI Rate sudah sulit dihindari.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam telah meredakan sebagian kekhawatiran pelaku pasar yang kemudian membuat tekanan obligasi AS mereda. Kenaikan suku bunga acuan ke 3,75-4% meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman inflasi.

Yield obligasi pemerintah AS pun turun 4,7 bps ke 4,97% usai menyentuh posisi tertinggi sejak 2007 di 5,02% pada Selasa (15/9/3026).  

Tak cuma di AS, yield obligasi Australia tenor 10 tahun juga tercatat turun 4,9 bps ke 5,3%, disusul won Korea Selatan turun 6,1 bps ke 4,47%. Begitu juga dengan obligasi Jepang turun 1,5 bps ke 2,96%. 

Pelaku pasar masih akan mencermati arah seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan ketika angka inflasi diperkirakan akan semakin meluas. Pelaku pasar uang memperkirakan ada sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga acuan di AS pada Oktober.

(riset/aji)

No more pages