Logo Bloomberg Technoz

Yield Obligasi RI Naik, Sinyal bagi BI Agar Lebih Hawkish?

Tim Riset Bloomberg Technoz
17 September 2026 14:56

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Yield obligasi pemerintah Indonesia kembali terkerek, terutama pada tenor pendek hingga menengah, pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Melansir data Bloomberg, yield tenor 1 tahun naik paling tajam 4,8 basis poin (bps) ke 6,81%.

Sementara tenor 7 tahun naik paling tajam 6,4 bps ke 7,15%. Begitu juga dengan tenor 10 tahun naik terbatas 0,1 bps ke 7,16%. 

Pergerakan yield di pasar obligasi Indonesia pada Kamis (17/9/2026). (Bloomberg)

Tekanan di pasar obligasi domestik dipicu oleh ekspektasi pengetatan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan ditetapkan pekan depan, menyusul langkah hawkish yang lebih dulu diambil bank sentral Amerika Serikat (AS). Bank sentral di berbagai negara diperkirakan merespons dengan kebijakan yang sama, sebagai mengantisipasi pembalikan arus modal keluar.


Kenaikan harga minyak di atas US$100/barel, yang membuat kekhawatiran inflasi kembali muncul, menjadi pendorong utama langkah pengetatan oleh sejumlah bank sentral. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai keputusan Federal Reserve untuk memulai siklus pengetatan kebijakan moneter akan berdampak kepada Indonesia. "Menurut kami, ada peluang BI menaikkan suku bunga mulai kuartal IV-2026," sebut Lionel.