Logo Bloomberg Technoz

Prediksi Gerak Pasar Obligasi Kala The Fed Naikkan Bunga

Tim Riset Bloomberg Technoz
17 September 2026 08:52

Ilustrasi Surat Utang (Diolah)
Ilustrasi Surat Utang (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS),Federal Reserve membawa dampak bagi pasar obligasi global. Sepertinya kurva yield semakin mendatar. 

Kurva yield kerap menggambarkan perbedaan tingkat imbal hasil antara obligasi berbagai tenor. Tenor panjang umumnya punya yield lebih tinggi, sementara tenor pendek lebih rendah.

Hal ini umumnya terjadi sebagai bentuk kompensasi bagi investor untuk memegang aset obligasi dengan segala risikonya. Semakin panjang tenor, paparan terhadap risiko kurs, perubahan suku bunga, maka yield semakin tinggi. 


Namun ketika kurva yield semakin datar, artinya selisih yield antara obligasi jangka pendek dan jangka panjang kian menyempit. Perubahan ini tak cuma terjadi di pasar obligasi AS, tetapi juga Jepang, Australia, dan Asia termasuk Indonesia berpotensi ikut terdampak karena kebijakan The Fed yang mengerek suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 3,75-4%. 

Ketegasan The Fed memerangi inflasi membuat bank sentral Asia punya ruang lebih terbatas untuk mengambil kebijakan dovish. Belum lagi, nada hawkish Gubernur The Fed Kevin Warsh yang mengindikasikan bahwa bank sentral AS berpotensi mengerek suku bunga lebih lanjut.