Logo Bloomberg Technoz

Meski memiliki banyak manfaat, Psikolog Klinis Veronica mengingatkan olahraga tidak selalu menjadi mekanisme coping yang sehat apabila dilakukan secara berlebihan.

Menurutnya, pembeda sederhananya adalah melihat kondisi seseorang setelah berolahraga. Jika setelah berolahraga seseorang menjadi lebih mampu menghadapi kehidupan dan persoalannya, aktivitas tersebut dapat menjadi coping yang sehat.

Sebaliknya, perlu diwaspadai apabila seseorang merasa harus terus berolahraga agar tidak perlu menghadapi persoalan atau emosi yang sedang dialaminya.

Pada kondisi tersebut, seseorang dapat menjadi terlalu rigid atau kompulsif dalam berolahraga, merasa bersalah ketika tidak latihan, memaksakan diri berolahraga saat sakit atau cedera, hingga mengorbankan pekerjaan, sekolah dan hubungan sosial.

“Apakah setelah berolahraga, saya menjadi lebih mampu menghadapi hari-hari dan kehidupan saya, atau saya merasa harus terus berolahraga supaya tidak perlu menghadapi kerumitan hari-hari dan kehidupan saya?” kata Veronica.

Sedangkan, psikiater bidang pengabdian masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren merangkum bahwa coping yang sehat membantu seseorang kembali menghadapi kehidupan, sementara avoidance atau pelarian membuat seseorang terus menghindari persoalan yang sebenarnya.

Tekanan Anak Muda Datang dari Banyak Arah

Veronica mengatakan tekanan yang dihadapi anak muda tidak dapat digeneralisasi. Namun, persoalan kesehatan mental pada kelompok usia tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.

Tekanan dapat berasal dari akademik, pekerjaan, kondisi ekonomi, relasi, keluarga, tuntutan pencapaian, hingga ketidakpastian masa depan. Kehidupan digital dan media sosial juga dapat memperkuat tekanan karena seseorang terus melihat pencapaian orang lain.

Kondisi tersebut dapat memunculkan perasaan tertinggal atau membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.

Menurut Veronica, tekanan psikologis juga tidak selalu terlihat sebagai kesedihan. Perubahan perilaku dari kondisi biasanya justru menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

Beberapa di antaranya yakni lebih mudah marah, kehilangan semangat, penurunan performa, lebih sering melakukan kesalahan, pola tidur berantakan, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, terus-menerus merasa lelah, peningkatan penggunaan alkohol atau zat, melakukan perilaku berisiko, hingga bekerja tanpa henti.

“Perubahan dari ‘biasanya’ orang tersebut inilah yang menjadi kata kunci tanda-tanda yang bisa dilihat,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa seseorang tetap dapat terlihat produktif, bekerja atau bersekolah meskipun sebenarnya sedang mengalami tekanan psikologis yang berat.

Kesehatan Mental dan Fisik Saling Berkaitan

Lahargo mengatakan kesehatan mental dan fisik tidak dapat dipandang sebagai dua hal yang terpisah.

Stres kronis dapat berkaitan dengan gangguan tidur, ketegangan otot, perubahan nafsu makan, gangguan saluran cerna, sakit kepala dan kelelahan.

Veronica juga mengatakan tekanan berkepanjangan dapat memunculkan gejala psikosomatis, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, GERD, muntah hingga keluhan lainnya.

Karena itu, menurutnya, kesehatan mental perlu dilihat dari berbagai lapisan perlindungan, mulai dari aktivitas fisik, tidur dan pola hidup sehat, kemampuan coping, hubungan sosial, dukungan keluarga dan komunitas hingga akses terhadap bantuan profesional.

Olahraga Bukan Satu-satunya Solusi

Kedua pakar tersebut menekankan bahwa olahraga merupakan salah satu faktor protektif kesehatan mental, tetapi bukan satu-satunya intervensi, terutama ketika seseorang sudah mengalami tekanan psikologis berat.

Lahargo mengatakan terdapat berbagai cara lain untuk mengelola stres, seperti journaling, relaksasi otot progresif, teknik pernapasan 4-7-8 dan grounding.

Bantuan profesional juga perlu dipertimbangkan ketika tekanan semakin berat atau menetap hingga mengganggu tidur, pekerjaan, sekolah maupun hubungan sosial.

Hal serupa berlaku ketika muncul serangan panik, keputusasaan, kehilangan minat, penggunaan zat, perilaku berisiko atau perasaan tidak sanggup menghadapi masalah seorang diri.

Terlebih apabila seseorang sudah memiliki pikiran untuk mati, menyakiti diri atau mengakhiri hidup.

“Olahraga bisa jadi pelindung kesehatan mental tapi bukan rompi anti peluru terhadap bunuh diri,” kata Veronica.

Menurutnya, apabila seseorang sudah memiliki pemikiran, niat atau rencana bunuh diri, kondisi tersebut perlu diperlakukan sebagai keadaan darurat. Orang tersebut tidak sebaiknya dibiarkan sendirian dan perlu segera mendapatkan bantuan dari orang yang dipercaya serta tenaga profesional atau layanan kesehatan darurat.

“Lari boleh. Gym boleh. Olahraga sangat baik. Tetapi kita tidak harus berlari sendirian dari masalah,” ujar Lahargo.

Dia menegaskan olahraga dapat membantu seseorang meregulasi emosi, memperbaiki tidur dan mengurangi stres. Namun, ketika olahraga hanya digunakan agar seseorang tidak perlu menghadapi persoalan, dibutuhkan dukungan yang lebih luas.

“Coping yang sehat membantu kita kembali menghadapi masalah, tapi kalau aktivitas itu justru menjadi satu-satunya cara agar tidak perlu menghadapi masalah, itulah tanda di mana kita butuh pertolongan yang lebih luas,” kata Veronica.

Soal stres berkepanjangan

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan stres berkepanjangan, kecemasan dan burnout dapat membuat seseorang mengalami kelelahan fisik.

Menurutnya, ketika seseorang mengalami tekanan dalam waktu lama, tubuh dapat berada dalam kondisi siaga secara terus-menerus. Kondisi tersebut dapat mengganggu tidur, membuat otot lebih tegang, menurunkan konsentrasi, mengubah pola makan, hingga menghambat proses pemulihan tubuh.

“Jadi ketika anak muda berkata, ‘Aku capek banget,’ kita perlu melihat kemungkinan bahwa yang kelelahan bukan hanya tubuhnya, tetapi juga pikiran dan emosinya,” ujar Lahargo.

Kelelahan akibat tekanan psikologis juga dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sakit kepala, nyeri otot, gangguan lambung, jantung berdebar, sulit tidur hingga badan terasa berat dan tidak bertenaga meski aktivitas fisik tidak terlalu berat.

Untuk Kelola Stres

Lahargo mengatakan meningkatnya minat anak muda terhadap olahraga seperti lari dan gym merupakan tren yang positif. Aktivitas tersebut relatif mudah dilakukan, memberikan struktur dan rutinitas, menghadirkan rasa pencapaian serta membuka ruang untuk membangun koneksi sosial.

“Olahraga bukan hanya soal ‘endorfin’. Ia memberi tubuh kesempatan untuk bergerak ketika pikiran terasa penuh,” katanya.

Menurut dia, olahraga juga dapat memberikan pengalaman bahwa seseorang masih memiliki sesuatu yang dapat dikendalikan di tengah berbagai ketidakpastian dalam hidup.

Seseorang dapat merasakan pencapaian sederhana, seperti mampu berjalan selama 20 menit, berlari 3 kilometer atau menyelesaikan latihan di gym.

Veronica menambahkan bahwa olahraga dapat membantu menurunkan gejala depresi, kecemasan dan stres sekaligus memperbaiki kualitas tidur.

Olahraga juga dapat memberikan rasa memiliki kendali terhadap diri sendiri, terutama ketika seseorang dapat menentukan target dan secara konsisten melakukan aktivitas positif untuk menjaga kesehatan.

“Individu bisa mendapatkan kembali rasa memiliki kendali terhadap sesuatu di saat banyak aspek kehidupan yang terasa tidak pasti — pekerjaan, relasi, finansial,” ujar Veronica.

Selain itu, olahraga dapat memberikan jeda dari sumber tekanan, membantu regulasi emosi serta membuka kesempatan untuk terhubung dengan orang lain melalui komunitas.

(dec)

No more pages