Logo Bloomberg Technoz

Insentif EV Diramal Gaet Investasi Industri Lanjutan Smelter HPAL

Sabrina Mulia Rhamadanty
15 August 2026 12:50

Endapan hidroksida campuran (MHP) yang tersuspensi dalam air di fasilitas pengolahan nikel yang dioperasikan Harita Nickel di Pulau Obi./Bloomberg
Endapan hidroksida campuran (MHP) yang tersuspensi dalam air di fasilitas pengolahan nikel yang dioperasikan Harita Nickel di Pulau Obi./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai rencana insentif kendaraan listrik untuk baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) berperan penting dalam menarik investasi ke sektor nikel lanjutan, khususnya investasi setelah tahap smelter high pressure acid leach (HPAL).

Ketua Bidang Hilirisasi Mineral Perhapi Muhammad Toha menyampaikan insentif EV tersebut dirancang untuk merangsang pertumbuhan rantai pasok kendaraan listrik yang selama ini belum terbangun optimal di Indonesia.

"Justru saya melihat insentif baterai EV berbasis nikel ini tujuannya untuk mengembangkan industri lanjutan dari HPAL, yang saat ini di dalam negeri masih belum terintegrasi secara utuh," ujar Toha saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).


Langkah penajaman fokus investasi ini dinilai krusial mengingat pemerintah telah menyetop izin baru untuk pabrik pengolahan tahap awal.

Blok Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di fasilitas pengolahan nikel Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara./Bloomberg-Dimas Ardian

"Pembangunan pabrik HPAL sendiri sebenarnya sudah ditutup dengan adanya moratorium, jadi tidak ada lagi penambahan unit baru. Untuk itu, investasi kini diarahkan ke industri setelah smelter yang nilainya jauh lebih hilir," tambah Toha.