Logo Bloomberg Technoz

PEMBANGKIT LISTRIK

Mencontoh Cirata, PLTS & PLTA Bisa Digabung demi Mitigasi El Niño

Sabrina Mulia Rhamadanty
28 September 2026 09:20

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. (Dok. Kemeterian ESDM)
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. (Dok. Kemeterian ESDM)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kombinasi antara pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berwaduk dinilai bisa menjadi opsi yang sangat layak diperkuat di tengah kekeringan karena El Niño, alih-alih menggunakan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Associate Principal Energy Shift Institute (ESI) Ahmad Zuhdi Ahmad Zuhdi menjelaskan PLTS beroperasi memasok listrik pada siang hari sehingga penggunaan air waduk untuk pembangkit dapat dihemat dan dialihkan ke jam-jam dengan beban puncak, selama kondisi waduk memungkinkan.

“Salah satu yang bisa dicontoh adalah integrasi pada PLTA dan PLTS Apung Cirata. Ini menunjukkan manfaat saling melengkapi terutama saat musim kering, meskipun PLTS sendiri belum dapat memenuhi kebutuhan listrik pada malam hari,” kata Ahmad saat dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026). 

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata berkapasitas 1.000 MW yang berada di Kabupaten Purwakarta dan Bandung Barat, Jawa Barat. (Dok. PLN)

Meski begitu, pada waduk serbaguna, pemanfaatan air untuk listrik juga harus dibagi dengan kebutuhan irigasi dan air baku, dengan tingkat dampak yang bervariasi antarwilayah tergantung kondisi daerah aliran sungai, cadangan air, dan durasi kekeringan.

Dengan demikian, Ahmad menilai perencanaan pasokan energi perlu memperhitungkan kemampuan nyata PLTA saat musim kering, bukan sekadar mengacu pada kapasitas terpasangnya.