Logo Bloomberg Technoz

Volume Ekspor Nikel RI Drop, Nilainya Naik: Bukan Cuma Efek Harga

Azura Yumna Ramadani Purnama
10 August 2026 11:00

Karung-karung feronikel yang akan dikirim di fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Karung-karung feronikel yang akan dikirim di fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas menilai turunnya volume ekspor produk olahan nikel 12,14% sepanjang Januari—Juni 2026 menjadi 1,06 juta ton saat nilainya naik 69,3% menjadi US$6,54 miliar dipengaruhi lonjakan harga logam nikel global dan cerminan hilirisasi berjalan.

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menyatakan kondisi tersebut menunjukkan terdapat penguatan harga jual-jual rata-rata di pasar internasional untuk produk olahan nikel selama semester I-2026.

Sebagai gambaran, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat harga rata-rata logam nikel di London Metal Exchange (LME) sepanjang Januari—Juni 2026 bergerak cukup volatil.


Antara lain; sebesar US$17.100/ton pada Januari 2026, turun ke US$16.450/ton pada Februari 2026, kemudian melonjak ke US$19.450/ton pada Mei 2026, dan terkoreksi ke sekitar US$17.850/ton pada Juni 2026.

“Faktor pemulihan permintaan global di sektor kendaraan listrik dan baja nirkarat atau stainless steel turut mendongkrak nilai transaksi kendati secara volume fisik pengapalan mengalami koreksi,” kata Wahyu ketika dihubungi, Senin (10/8/2026).

Produksi baja nirkarat dunia sebagai penopang permintaan nikel./dok. BMI