Logo Bloomberg Technoz

Vale: Permintaan Nikel Didominasi Industri Baterai EV pada 2030

Azura Yumna Ramadani Purnama
07 August 2026 08:30

Nikel sulfat dipamerkan di pameran InterBattery di Seoul, Korea Selatan./Bloomberg-SeongJoon Cho
Nikel sulfat dipamerkan di pameran InterBattery di Seoul, Korea Selatan./Bloomberg-SeongJoon Cho

Bloomberg Technoz, Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memproyeksikan permintaan nikel bakal didominasi oleh industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) pada 2030, dari sebelumnya didominasi dari industri baja nirkarat atau stainless steel.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Budiawansyah menjelaskan produk nikel yang sebelumnya didominasi untuk kebutuhan baja nirkarat mulai bergeser ke industri kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Pergeseran itu, kata Budi, diperkirakan mendorong lonjakan produksi produk antara seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk diolah menjadi nikel sulfat yang diperuntukan untuk precursor cathode active material (pCAM) dan cathode active material (CAM).


“Kalau kita lihat demand-nya sekarang mulai bergeser, pertambahannya. Memang [masih] didorong oleh stainless steel. Namun, kalau kita lihat, mulai dominan fast growing segment. Jadi industri baterai ini atau storage energi ini, itu akan menjadi fast growing,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar Hipmi, Kamis (6/8/2026).

Menurut Budi, hal tersebut tecermin dalam riset Shanghai Metals Market (SMM) yang memproyeksikan pangsa produksi pCAM Indonesia meningkat dari sekitar 3% pada 2024 menjadi 20% pada 2030.