Optimisme ini juga berhasil memangkas Credit Default Swap (CDS) Indonesia ke 93,04, setelah akhir bulan Juli sempat berada di 95,77.
Kedua, aktivitas manufaktur Indonesia juga berhasil kembali ke zona ekspansif, dan berada di 50,2 untuk periode Juli, berdasarkan Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global. Namun, Samuel Sekuritas, menilai dampak aktivitas manufaktur terhadap pasar obligasi pemerintah diperkirakan relatif netral, sementara dukungan terhadap rupiah kemungkinan juga terbatas mengingat permintaan eksternal masih lemah.
Ketiga, meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali dikabarkan membuka jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan perang. Meredanya tensi perang, membuat indeks dolar AS sedikit terpangkas ke 99,78, dan minyak Brent kembali ke kisaran US$82,85/barel. Hal ini membawa rupiah bergerak stabil di kisaran Rp17.990/US$.
(dsp)





























