Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Turun, Obligasi Asia Rebound

Tim Riset Bloomberg Technoz
18 September 2026 08:26

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tekanan di pasar obligasi diperkirakan sedikit mereda pada perdagangan Jumat (18/9/2026), setelah lonjakan yield kemarin akibat kebijakan hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve.

Mengacu data Bloomberg, pergerakan pasar obligasi Asia tenor acuan 10 tahun terlihat optimis dengan adanya penurunan yield. Pergerakan yield ini mengekor reli yang terjadi pada Wall Street yang mengalami rebound, setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 3,75-4%, sesuai ekspektasi pasar demi meredam inflasi. 

  • Indonesia (USD)/INDON (-2,9 bps) 5,87%
  • Indonesia (Rupiah)/INDOGB (stabil) 7,1%
  • Jepang (-3,0 bps) 2,93%
  • Selandia Baru (-6,9 bps) 4,91%
  • Australia (-3,8 bps) 5,26%
  • Singapura (-1,5 bps) 2,45%
  • India (stabil) 7,04%
  • China (0,1 bps) 1,67%
  • Thailand (stabil) 2,3%
  • Taiwan (stabil) 1,91%

Reli juga tampak terjadi pada sebagian besar pasar obligasi di negara maju seperti:

  • Amerika Serikat (-8,8 bps) 4,93%
  • Jerman (-2,9 bps) 3,47%
  • Belanda (-2,6 bps) 3,54%
  • Kanada (-12 bps) 3,81%
  • Swedia (-4,4 bps) 3,15%

Pergerakan di pasar obligasi hari ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar surat utang mulai sedikit mereda. Penurunan yang terjadi pada yield INDON juga menunjukkan adanya perbaikan sentimen terhadap aset berdenominasi dolar AS di kawasan. Namun, spread antaran yield INDON dan US Treasury masih sekitar 95 basis poin. 

Reli di pasar obligasi juga ditopang oleh penurunan harga minyak yang memberi ruang bagi pasar obligasi global untuk melakukan rebound, meski investor masih mencermati arah kebijakan bank sentral utama.