Logo Bloomberg Technoz

Akankah AS Teken RUU Sanksi Rusia Saat Pasar Minyak Bergolak?

Azura Yumna Ramadani Purnama
23 July 2026 11:00

Pekerja mengambil sampel minyak mentah di anjungan sumur ganda Rosneft PJSC, di ladang minyak Samotlor, Rusia./Bloomberg-Andrey Rudakov
Pekerja mengambil sampel minyak mentah di anjungan sumur ganda Rosneft PJSC, di ladang minyak Samotlor, Rusia./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar industri minyak dan gas bumi (migas) memprediksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap nekat meratifikasi Rancangan Undang-Undang (RUU) sanksi minyak Rusia, sebab memberikan banyak keuntungan bagi Negeri Paman Sam.

Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai AS bakal tetap meratifikasi RUU sanksi Rusia, kendati harga minyak mentah dunia kembali bergejolak akibat perang di Timur Tengah, berbarengan dengan kondisi pasokan minyak global yang sedang terkikis.

Pri Agung memprediksi AS telah bersiap untuk menghadapi konsekuensi atas penerapan RUU tersebut, salah satunya ihwal potensi makin ketatnya pasokan minyak dunia.


“Itu kemungkinan akan segera disahkan, karena secara geopolitis akan memberikan banyak leverage untuk AS. Secara ekonomi, kemungkinan sudah diantisipasi oleh AS dengan rational impact yang terkelola untuk ekonomi mereka,” kata Pri Agung ketika dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump saat Konpers usai KTT di Alaska, Jumat (15/8/2025). (Bloomberg)

Tekanan China dan Pengecualian