Pri Agung menilai langkah meratifikasi RUU sanksi Rusia bisa menjadi keputusan geopolitik, bukan sekadar pertimbangan kebijakan energi.
Alasannya, sanksi terhadap sektor energi Rusia bakal memberikan tekanan ke perekonomian Kremlin dan negara utama tujuan ekspor minyak mereka, yakni China dan India.
Dia memprediksi AS bakal tetap menyiapkan pengecualian sanksi ke negara-negara lain yang membeli minyak Rusia secara terbatas, seperti Indonesia.
Sementara itu, bagi pasar minyak global, Pri Agung menilai AS bakal memiliki posisi tawar dan peran yang lebih kuat jika RUU sanksi Rusia tersebut disahkan.
“Efeknya ke harga minyak masih 50:50, tidak selalu mengarah ke harga naik, karena adanya potensi pengecualian tersbut dan market tidak hanya tergantung pada cadangan minyak yang beberapa waktu dirilis,” tegas dia.
Efek ke Harga Minyak
Dihubungi terpisah, ekonom Center of Reform on Economics (Core) menilai rencana tambahan sanksi terhadap Rusia yang membatasi ekspor minyak Negeri Beruang Merah itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Terlebih, Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia.
Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal menilai pembatasan terhadap minyak Rusia memang dapat dipandang sebagai langkah yang strategis dari sisi politik.
Namun, kebijakan tersebut tetap memiliki konsekuensi ekonomi berupa kenaikan harga energi yang pada akhirnya ditanggung oleh para konsumen.
Menurutnya, masyarakat AS tidak akan sepenuhnya terlindungi dari dampak tersebut, meski negara itu merupakan produsen minyak terbesar di dunia.
Alasannya, pertumbuhan produksi minyak AS belakangan cenderung melambat, sementara kebutuhan energi berpotensi meningkat apabila terjadi eskalasi konflik.
“Jadi memang dipandang lebih strategis untuk memberikan pembatasan terhadap suplai minyak Rusia karena alasan politik. Namun, konsekuensi daripada keputusan politik akan memberikan dampak terhadap kondisi ekonominya,” kata Faisal ketika dihubungi, Kamis (23/7/2026).
Ihwal peluang pengesahan RUUtersebut, Faisal menilai hasil akhirnya masih sulit diprediksi. Ratifikasi akan bergantung pada dinamika politik di AS, termasuk tarik-menarik kepentingan, serta perdebatan di lembaga legislatif.
“Jadi ini tergantung daripada apa, tarik-menarik power, kekuatan dan juga negosiasi dan juga perdebatan tentu saja di dalam, di dalam tubuh institusi politik di Amerika pada saat sekarang,” tegasnya.
Sekadar informasi, RUU sanksi baru Rusia yang dipelopori oleh almarhum Senator Lindsey Graham dan didukung oleh Trump akan menargetkan lima pembeli utama minyak mentah dan gas alam Rusia, termasuk China dan India.
RUU, yang dinegosiasikan oleh kelompok senator bipartisan, ini akan memberi Trump wewenang untuk mengenakan tarif hingga 100% kepada negara-negara tersebut.
RUU tersebut mencakup pengecualian bagi negara-negara yang mengimpor kurang dari 15% gas alam Rusia. Hal ini memungkinkan sekutu-sekutu yang termasuk di antara importir utama gas alam Rusia, termasuk Prancis dan Jepang, agar terhindar dari sanksi, menurut seorang staf Senat.
RUU tersebut juga menambahkan wewenang baru untuk mengenakan tarif hingga 100% pada lima negara teratas yang memfasilitasi penghindaran sanksi minyak Rusia.
Ketentuan lain dalam UU tersebut menargetkan apa yang disebut armada bayangan Rusia dan dukungan China terhadap basis industri pertahanan Kremlin.
Ini bukan kali pertama AS mencoba menghukum negara lain karena membeli minyak Rusia.
Tahun lalu, AS memberlakukan tarif tambahan sebesar 25% terhadap India sebagai sanksi atas impor minyak Rusia, kemudian mencabut tarif tersebut pada Februari.
Secara terpisah, AS memberikan otorisasi sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia pada April.
Langkah, yang kini telah berakhir masa berlakunya, tersebut berdampak pada pasokan minyak mentah yang seharusnya dikenai sanksi, sebagai upaya untuk meredakan kenaikan harga energi selama konflik di Iran.
Tingkat tarif akhir akan ditetapkan oleh Perwakilan Perdagangan AS, dan diperkirakan akan berada pada tingkat yang akan secara tepat mencegah pembelian minyak Rusia, kata Senator Richard Blumenthal, seorang Demokrat dari Connecticut, dalam konferensi pers, dikutip Bloomberg.
Trump menambahkan bahwa RUU tersebut mungkin menargetkan Iran.
“Mereka akan memasukkan Iran, yang merupakan hal yang sangat besar. Jika mereka melakukannya, mereka mungkin juga menambahkan Hizbullah,” kata Trump.
Harga minyak naik setelah militan Houthi yang didukung Iran mengatakan menargetkan dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, meningkatkan konflik Timur Tengah dan mengancam gangguan pasokan yang lebih dalam.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 1,9% menjadi US$95,87/barel pada pukul 09.58 pagi ini di Singapura. Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 1,6% menjadi US$88,19/barel.
(wdh)






























