Bahkan, lanjut Wahyudi, operasional terminal BBM dan sejumlah SPBU diputuskan buka selama 24 jam agar antrean yang terjadi dapat segera terurai.
“Sehingga kita sudah sepakat alokasi BBM di setiap regional yang menjadi titik kepadatan dan titik peningkatan ekonomi di masyarakat, ini semua akan diperlancar dan akan dipenuhi semuanya,” ujarnya.
Adapun, dia menyatakan peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke bersubsidi memang diperbolehkan menurut aturan yang berlaku, terutama jika dilakukan oleh masyarakat yang berhak menerima subsidi BBM.
Dia mengungkapkan kenaikan konsumsi BBM bersubsidi di sejumlah daerah rata-rata mencapai 10%—15%, tetapi dia mengklaim kuota BBM bersubsidi tetap masih terkendali.
“Adanya indikasi antrean, sepakat tadi adanya shifting, perubahan pola pembelian BBM nonsubsidi, banyak yang pindah menjadi subsidi. Itu sesuai regulasi, ketentuan memang diizinkan dan dimungkinkan untuk masyarakat,” kata Wahyudi
Dia juga mendapati terdapat sejumlah pelanggaran yang terjadi, antara lain; penggunaan QR Code BBM bersubsidi berulang kali dan tidak sesuai peruntukan, modifikasi tangki BBM, hingga pembelian BBM bersubsidi berulang untuk dijual kembali.
“Dan kami terus menggerakkan dan melakukan evaluasi kaitannya pelanggaran-pelanggaran pembelian BBM subsidi, baik itu melakukan blokir QR code, dan kita langsung tindak tegas untuk temuan-temuan di lapangan, serta adanya penyerahan barang-barang bukti kendaraan-kendaraan yang terbukti sebagai helikopter pengerit, maupun pengetap yang sering keluar masuk SPBU,” ucap dia.
Adapun, Pertamina Patra Niaga mencatat terjadi perubahan konsumsi BBM dari jenis nonsubsidi menjadi bersubsidi, tecermin dari penyaluran Pertalite yang naik 9,4% dan Pertamax yang turun 18% pada Juli dibandingkan dengan periode Januari—Mei 2026.
Direktur Pemasaran PPN Eko Ricky Susanto menjelaskan rerata penyaluran Pertalite pada Juli 2026 naik 9,4% atau sekitar 7.129 kiloliter (kl) per hari dari rerata normal, sementara Pertamax series turun 18% atau sebesar 4.476 kl per hari dari rerata normal.
Eko juga mencatat proporsi penggunaan Pertalite mencapai 80,4% atau naik 4,9% pada Juli 2026 dari Januari—Mei 2026 sekitar 75,4%.
Sebaliknya, proporsi konsumsi Pertamax mencapai 18,4% atau turun 4,4% dari sebelumnya 23,2% pada periode yang sama.
“Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO [bersubsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dari periode sebelumnya,” kata Eko dalam RDP di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).
Dalam bahan paparan Eko, dijelaskan bahwa tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.
Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal.
Dalam waktu yang sama, produk Dex Series penyalurannya turun 6,4% atau 232 kl per hari dari rerata normal.
Dengan begitu, prorporsi Solar dalam serapan bahan bakar diesel Pertamina mencapai 94,2% atau naik 1,2% dari sebelumnya 93%. Sementara itu, proporsi Dexlite menjadi 3,5% atau turun 0,6% dari sebelumnya 4,1%.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga Juli,” tegasnya.
(azr/wdh)





























