Logo Bloomberg Technoz

Biang Pertalite Langka: Panic Buying, Migrasi dari BBM Nonsubsidi

Azura Yumna Ramadani Purnama
17 July 2026 09:20

Seorang petugas melayani pelanggan di sebuah SPBU milik PT Pertamina (Persero)./Bloomberg-Dimas Ardian
Seorang petugas melayani pelanggan di sebuah SPBU milik PT Pertamina (Persero)./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkapkan kekosongan stok dan antrean bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di sejumlah daerah dipicu oleh aksi panic buying, serta migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi. 

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyatakan peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke bersubsidi memang diperbolehkan menurut aturan yang berlaku, terutama jika dilakukan oleh masyarakat yang memang berhak menerima subsidi BBM.

Dia mengungkapkan kenaikan volume konsumsi BBM bersubsidi di sejumlah daerah rata-rata mencapai 10%—15%. Namun, dia mengklaim kuota Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite dan Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) Solar tetap masih terkendali.


“Adanya indikasi antrean [terjadi karena] adanya shifting; perubahan pola pembelian BBM nonsubsidi. Banyak yang pindah menjadi subsidi. Itu sesuai regulasi, ketentuan, memang diizinkan dan dimungkinkan untuk masyarakat,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).

Pelanggan mengantre di sebuah SPBU PT Pertamina di Silaut, Sumatera Barat, Indonesia./Bloomberg-Muhammad Fadli

Dia menyatakan BPH Migas bersama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) aktif meninjau dan memantau daerah-daerah yang mengalami antrean dan kelangkaan BBM bersubsidi.