Logo Bloomberg Technoz

Potret Pangkas Rambut Rp5.000 di Bogor, Bertahan Hampir 40 Tahun

Andrean Kristianto
17 July 2026 07:18

Supri (62) melayani pelanggan di Pangkas Rambut Pemuda, Jalan Pemuda, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Supri (62) melayani pelanggan di Pangkas Rambut Pemuda, Jalan Pemuda, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bersama rekannya, Supri setiap harinya melayani pelanggan yang ingin memotong rambut di tempat usahanya yang sederhana. (Bloomberg Technoz/Andre)

Bersama rekannya, Supri setiap harinya melayani pelanggan yang ingin memotong rambut di tempat usahanya yang sederhana. (Bloomberg Technoz/Andre)

Setiap pelanggan yang datang, harus bersabar mengantre untuk dapat memotong rambut. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setiap pelanggan yang datang, harus bersabar mengantre untuk dapat memotong rambut. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dengan alat sederhana, Supri telah memotong ribuan rambut pelanggannya dari tahun 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dengan alat sederhana, Supri telah memotong ribuan rambut pelanggannya dari tahun 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pangkas Rambut Pemuda memilih tetap bertahan dengan kesederhanaannya disaat berbagai barbershop yang menawarkan ruangan nyaman.

Pangkas Rambut Pemuda memilih tetap bertahan dengan kesederhanaannya disaat berbagai barbershop yang menawarkan ruangan nyaman.

Salah satu hal yang membuat tempat ini berbeda adalah tarifnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Salah satu hal yang membuat tempat ini berbeda adalah tarifnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Ketika banyak barbershop memasang harga hingga ratusan ribu rupiah, pangkas rambut ini masih mempertahankan biaya potong rambut sebesar Rp5.000.

Ketika banyak barbershop memasang harga hingga ratusan ribu rupiah, pangkas rambut ini masih mempertahankan biaya potong rambut sebesar Rp5.000.

Meskipu! memasang tarif yang murah, namun para pelanggannya merasa puas dengan hasilnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Meskipu! memasang tarif yang murah, namun para pelanggannya merasa puas dengan hasilnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, satu kepala selesai dipangkas sebelum kursi kembali terisi oleh pelanggan berikutnya.

Dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, satu kepala selesai dipangkas sebelum kursi kembali terisi oleh pelanggan berikutnya.

Puluhan tahun menjalankan usaha membuat Supri memiliki hubungan dekat dengan para pelanggannya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Puluhan tahun menjalankan usaha membuat Supri memiliki hubungan dekat dengan para pelanggannya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Orang-orang yang datang bukan hanya sekadar pelanggan, melainkan sudah dianggap seperti keluarga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Orang-orang yang datang bukan hanya sekadar pelanggan, melainkan sudah dianggap seperti keluarga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sudah hampir empat dekade Supri menggantungkan hidup dari usaha pangkas rambut yang dirintisnya pada 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sudah hampir empat dekade Supri menggantungkan hidup dari usaha pangkas rambut yang dirintisnya pada 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Setiap harinya motor-motor pelanggan bergantian memasuki halaman pangkas rambut yang berlokasi tak jauh dari gedung DPRD Kota Bogor tersebut.

Setiap harinya motor-motor pelanggan bergantian memasuki halaman pangkas rambut yang berlokasi tak jauh dari gedung DPRD Kota Bogor tersebut.

Supri (62) melayani pelanggan di Pangkas Rambut Pemuda, Jalan Pemuda, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Bersama rekannya, Supri setiap harinya melayani pelanggan yang ingin memotong rambut di tempat usahanya yang sederhana. (Bloomberg Technoz/Andre)
Setiap pelanggan yang datang, harus bersabar mengantre untuk dapat memotong rambut. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Dengan alat sederhana, Supri telah memotong ribuan rambut pelanggannya dari tahun 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pangkas Rambut Pemuda memilih tetap bertahan dengan kesederhanaannya disaat berbagai barbershop yang menawarkan ruangan nyaman.
Salah satu hal yang membuat tempat ini berbeda adalah tarifnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Ketika banyak barbershop memasang harga hingga ratusan ribu rupiah, pangkas rambut ini masih mempertahankan biaya potong rambut sebesar Rp5.000.
Meskipu! memasang tarif yang murah, namun para pelanggannya merasa puas dengan hasilnya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, satu kepala selesai dipangkas sebelum kursi kembali terisi oleh pelanggan berikutnya.
Puluhan tahun menjalankan usaha membuat Supri memiliki hubungan dekat dengan para pelanggannya. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Orang-orang yang datang bukan hanya sekadar pelanggan, melainkan sudah dianggap seperti keluarga. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sudah hampir empat dekade Supri menggantungkan hidup dari usaha pangkas rambut yang dirintisnya pada 1988. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Setiap harinya motor-motor pelanggan bergantian memasuki halaman pangkas rambut yang berlokasi tak jauh dari gedung DPRD Kota Bogor tersebut.

Bloomberg Technoz, Jakarta - "Kapan-kapan kita berjumpa lagi. Kapan-kapan kita bersama lagi. Mungkin lusa atau di lain hari.”

Lagu Koes Plus mengalun pelan dari pengeras suara kecil di sudut Pangkas Rambut Pemuda, Jalan Pemuda, Kota Bogor, Jawa Barat. Di dalam ruangan sederhana itu, suara musik lawas berpadu dengan dengung mesin cukur dan percakapan pelanggan, mengisi ruang sederhana tempat orang-orang datang dan pergi sepanjang hari.

Bagi Supri (62), pemilik Pangkas Rambut Pemuda, musik bukan sekadar pengisi suasana. Lagu-lagu lama yang hampir selalu ia putar setiap hari menjadi bagian dari cara dirinya menciptakan kenyamanan bagi pelanggan.

“Adem, biar suasana adem,” ujar Supri sambil tetap fokus merapikan potongan rambut seorang pelanggan.

Hampir 40 tahun sudah ia menjalankan usaha tersebut. Sejak merintis Pangkas Rambut Pemuda pada 1988, banyak hal di sekelilingnya berubah. Wajah kota berganti, gaya rambut berkembang, dan bisnis pangkas rambut semakin modern dengan hadirnya berbagai barbershop yang menawarkan ruangan nyaman, layanan beragam, serta konsep yang lebih kekinian.

Namun, di tengah perubahan itu, Pangkas Rambut Pemuda memilih tetap bertahan dengan kesederhanaannya.

Salah satu hal yang membuat tempat ini berbeda adalah tarifnya. Ketika banyak barbershop kini memasang harga mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, pria berusia 62 tahun tersebut masih mempertahankan biaya potong rambut sebesar Rp5.000.

Bagi Supri, mempertahankan harga murah bukan semata-mata soal bersaing dengan usaha lain. Ia ingin memastikan masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetap bisa mendapatkan layanan potong rambut yang rapi dan terjangkau.

“Target saya masyarakat kelas menengah ke bawah yang ingin potong rambut murah, tetapi tetap rapi,” kata Supri kepada Bloomberg Technoz, Kamis (16/7).

Siang itu, kursi pangkas nyaris tak pernah kosong. Ada pelanggan yang datang sendiri, ada pula orang tua yang mengantar anaknya. 

Supri bersama seorang rekannya bergantian melayani setiap pelanggan. Dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, satu kepala selesai dipangkas sebelum kursi kembali terisi oleh pelanggan berikutnya.

Rutinitas itu nyaris tak berubah dari hari ke hari. Selama puluhan tahun, Supri bukan hanya mengenal wajah para pelanggannya, tetapi juga menyaksikan perjalanan hidup mereka. Anak-anak yang dahulu datang menggandeng tangan orang tuanya kini telah tumbuh dewasa. Sebagian dari mereka tetap setia memangkas rambut di tempat yang sama.

Salah satunya Amar (22). Ia mengaku telah menjadi pelanggan Pangkas Rambut Pemuda sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hingga kini, ia masih rutin datang, bahkan bisa dua kali dalam sebulan.

“Pertama harganya murah. Kedua, dari dulu memang sering potong rambut di sini,” kata Amar.

(dre)