Potret Pangkas Rambut Rp5.000 di Bogor, Bertahan Hampir 40 Tahun
Andrean Kristianto
17 July 2026 07:18
Bloomberg Technoz, Jakarta - "Kapan-kapan kita berjumpa lagi. Kapan-kapan kita bersama lagi. Mungkin lusa atau di lain hari.”
Lagu Koes Plus mengalun pelan dari pengeras suara kecil di sudut Pangkas Rambut Pemuda, Jalan Pemuda, Kota Bogor, Jawa Barat. Di dalam ruangan sederhana itu, suara musik lawas berpadu dengan dengung mesin cukur dan percakapan pelanggan, mengisi ruang sederhana tempat orang-orang datang dan pergi sepanjang hari.
Baca Juga
Bagi Supri (62), pemilik Pangkas Rambut Pemuda, musik bukan sekadar pengisi suasana. Lagu-lagu lama yang hampir selalu ia putar setiap hari menjadi bagian dari cara dirinya menciptakan kenyamanan bagi pelanggan.
“Adem, biar suasana adem,” ujar Supri sambil tetap fokus merapikan potongan rambut seorang pelanggan.
Hampir 40 tahun sudah ia menjalankan usaha tersebut. Sejak merintis Pangkas Rambut Pemuda pada 1988, banyak hal di sekelilingnya berubah. Wajah kota berganti, gaya rambut berkembang, dan bisnis pangkas rambut semakin modern dengan hadirnya berbagai barbershop yang menawarkan ruangan nyaman, layanan beragam, serta konsep yang lebih kekinian.
Namun, di tengah perubahan itu, Pangkas Rambut Pemuda memilih tetap bertahan dengan kesederhanaannya.
Salah satu hal yang membuat tempat ini berbeda adalah tarifnya. Ketika banyak barbershop kini memasang harga mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, pria berusia 62 tahun tersebut masih mempertahankan biaya potong rambut sebesar Rp5.000.
Bagi Supri, mempertahankan harga murah bukan semata-mata soal bersaing dengan usaha lain. Ia ingin memastikan masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetap bisa mendapatkan layanan potong rambut yang rapi dan terjangkau.
“Target saya masyarakat kelas menengah ke bawah yang ingin potong rambut murah, tetapi tetap rapi,” kata Supri kepada Bloomberg Technoz, Kamis (16/7).
Siang itu, kursi pangkas nyaris tak pernah kosong. Ada pelanggan yang datang sendiri, ada pula orang tua yang mengantar anaknya.
Supri bersama seorang rekannya bergantian melayani setiap pelanggan. Dalam waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, satu kepala selesai dipangkas sebelum kursi kembali terisi oleh pelanggan berikutnya.
Rutinitas itu nyaris tak berubah dari hari ke hari. Selama puluhan tahun, Supri bukan hanya mengenal wajah para pelanggannya, tetapi juga menyaksikan perjalanan hidup mereka. Anak-anak yang dahulu datang menggandeng tangan orang tuanya kini telah tumbuh dewasa. Sebagian dari mereka tetap setia memangkas rambut di tempat yang sama.
Salah satunya Amar (22). Ia mengaku telah menjadi pelanggan Pangkas Rambut Pemuda sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hingga kini, ia masih rutin datang, bahkan bisa dua kali dalam sebulan.
“Pertama harganya murah. Kedua, dari dulu memang sering potong rambut di sini,” kata Amar.
(dre)





























