Kemarau dan Wajah Surut Debit Katulampa
Andrean Kristianto
16 July 2026 18:59
Bloomberg Technoz, Jakarta - Debit air di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir seiring berkurangnya intensitas hujan di wilayah hulu Sungai Ciliwung. Kondisi tersebut membuat tinggi muka air sungai terpantau lebih rendah dari biasanya.
Petugas Bendung Katulampa, Alwan, mengatakan penurunan debit air mulai terjadi sejak dua hari terakhir akibat minimnya curah hujan di kawasan hulu Sungai Ciliwung.
Baca Juga
"Penurunan debit air mulai terjadi sekitar dua hari terakhir akibat faktor cuaca," ujar Alwan kepada Bloomberg Technoz, Kamis (16/7).
Hasil pemantauan petugas menunjukkan tinggi muka air (TMA) Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa sempat berada pada angka 0 sentimeter. Kondisi itu membuat dasar sungai dan batu-batuan terlihat jelas di sejumlah bagian area bendungan.
Meskipun TMA Sungai Ciliwung tercatat 0 cm, kondisi tersebut tidak berdampak terhadap sektor irigasi. Pasokan air untuk kebutuhan pertanian tetap terjaga melalui pintu intake yang mengalirkan air menuju saluran irigasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 mulai terjadi pada Juli di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menyebut sekitar 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau sepanjang Juli 2026.
Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah yang mulai mengalami puncak musim kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, sebagian wilayah Jawa dan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.
Meski demikian, kondisi cuaca di setiap daerah masih dapat berubah karena dipengaruhi berbagai fenomena atmosfer yang berlangsung secara regional maupun lokal.
(dre/ain)

























