Logo Bloomberg Technoz

Dengan sentimen global yang saling berkelindan itu, pergerakan mata uang Asia mendapat sedikit ruang penguatan. Dari pasar yang sudah buka, won Korea Selatan menguat paling tajam sebesar 0,24%. Sementara penguatan terbatas terjadi pada yen Jepang, dolar Singapura, yuan offshore, yuan China, dan dolar Hong Kong. 

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)

Pergerakan mata uang kawasan masih akan terbebani oleh pergerakan harga minyak, tak terkecuali rupiah. Walaupun data inflasi AS pekan ini meredakan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, tapi konflik yang terus meningkat di Selat Hormuz kembali mengalihkan perhatian investor pada risiko pasokan energi. 

Akan tetapi, rupiah masih memiliki penopang jangka pendek yakni keputusan S&P Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan prospek stabil. Penetapan ini menjadi sinyal bahwa lembaga pemeringkat masih menilai bahwa fundamental ekonomi Tanah Air cukup kuat di tengah ketidakpastian saat ini. Status tersebut sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tetap masuk dalam kategori investment grade alias layak investasi. 

Kemarin, di pasar Surat Utang Negara (SUN) investor masih mengakumulasi aksi beli dan membuat tenor 1 tahun tercatat turun 5,7 bps ke 7,14%, disusul tenor 2 tahun ikut turun 5,8 bps menjadi 7,2%. Begitu juga tenor 5 tahun mengalami penurunan yield 2,9 bps jadi 7,2%, dan tenor 10 tahun turun 1,8 bps jadi 7,24%.

Pagi ini, yield tenor 1 tahun kembali turun 14,2 bps menjadi 6,93%, berdasarkan data Bloomberg pukul 06:19 WIB.

Di sisi lain, kemarin Bank Indonesia (BI) juga menggelar operasi moneter dalam bentuk lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mengantongi Rp15 triliun. Penawaran yang masuk dalam lelang ini juga tercatat naik 0,66% dari lelang sebelumnya menjadi Rp30,66 triliun dari posisi sebelumnya Rp30,46 triliun. 

Dengan sentimen tersebut, sepertinya pergerakan rupiah hari ini masih mendapatkan tenaga untuk menguat, meski relatif terbatas lantaran risiko eksternal belum sepenuhnya mereda. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp18.000-Rp18.080/US$. 

Untuk diketahui, kemarin rupiah ditutup menguat 0,14% ke posisi Rp18.067/US$ dan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia. 

(riset/aji)

No more pages