Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Lanjut Menguat usai Trump Ancam Gempur Iran Lagi

News
15 July 2026 07:20

Ilustrasi harga minyak. (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi harga minyak. (Sumber: Bloomberg)

Kanoko Matsuyama - Bloomberg News

Bloomberg, Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut setelah Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan lanjutan ke Iran. Ancaman ini keluar hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) resmi memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Republik Islam tersebut di Selat Hormuz.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$80 per barel, setelah sempat melonjak hingga 11% pada dua sesi pertama pekan ini. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent ditutup mendekati level US$85 per barel pada perdagangan Selasa waktu setempat. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut. Ia bahkan mengancam bahwa AS kemungkinan akan membom pembangkit listrik dan jembatan-jembatan di Iran pekan depan jika Teheran menolak untuk kembali ke meja perundingan.


Pihak AS resmi memberlakukan kembali blokade laut mulai pukul 16.00 waktu Washington, berselang satu jam setelah pasukan militer Amerika meluncurkan gelombang serangan udara baru ke target-target Iran. Operasi militer tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang komersial di selat tersebut. Di sisi lain, pada hari Selasa (14/7), Trump akhirnya membatalkan rencana penarikan biaya tambahan sebesar 20% bagi kapal kargo yang melintasi jalur air vital tersebut, yang baru saja ia umumkan sehari sebelumnya.

Pembatalan rencana pungutan itu menjadi kabar baik bagi pelaku industri pelayaran yang sebelumnya terguncang akibat runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran serta meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling penting di dunia yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

Grafik pergerakan harga minyak. (Sumber: Bloomberg)