Logo Bloomberg Technoz

“Harga LME diproyeksikan bergerak di rentang US$15.500—US$17.500/metrik ton. Setelah evaluasi revisi RKAB selesai pada akhir Juli, pasar akan merespons volume riil pasokan dan harga kemungkinan besar akan menemukan landasan kuat di atas US$ 16.500 [per ton],” kata Wahyu ketika dihubungi, Rabu (15/7/2026).

Ekskavator memuat truk dengan bijih nikel mentah di dermaga pelabuhan Thessaloniki./Bloomberg-Konstantinos Tsakalidis

Lebih lanjut, dia menyatakan sikap pemerintah membuka revisi RKAB secara terbatas bakal mencegah kelebihan pasokan nikel dunia terjadi lebih jauh.

Wahyu mencatat lembaga analitik Bernstein melihat pasar nikel global bergerak jauh lebih seimbang dengan proyeksi surplus yang tipis.

Meskipun begitu, Wahyu mencatat inventori atau stok gabungan di bursa LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) masih dalam level yang cukup tinggi.

Kondisi tersebut diprediksi menahan laju kenaikan harga nikel yang terjadi gegara pemangkasan RKAB.

Pasar Baterai

Selain faktor tersebut, Wahyu memandang kenaikan harga nikel menjadi terbatas gegara sektor baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) global masih mengalami pergeseran ke baterai berbasis nonnikel.

Lalu, industri baja nirkarat atau stainless steel China sedang masuk ke siklus musim sepi atau off season, yang terjadi pada Juni hingga Agustus.

“Jadi, kebijakan ini [kepastian kontrol produksi bijih nikel] bekerja sebagai bantalan pengaman agar harga tidak jatuh, bukan pematik reli harga yang agresif,” ungkap Wahyu.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan tidak akan ada peningkatan signifikan terhadap kuota RKAB nikel pada 2026.

Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan pasar guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian RKAB hanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pemurnian yang saat ini masih kekurangan pasokan bijih nikel.

"Ini saya mau jelaskan, nikel tidak ada kenaikan [kuota produksi di RKAB] kecuali hanya mengejar untuk smelter yang masih kekurangan suplai. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026) petang.

Saat ditanya mengenai perincian angka penambahan kuota tersebut, Tri enggan membeberkan secara spesifik.

Dia menyebut Ditjen Minerba masih menghitung total kebutuhan smelter dan mencocokkannya dengan kuota RKAB yang telah disetujui sebelumnya.

"Kita masih [menghitung] maksudnya yang smelter itu kebutuhan totalnya berapa, terus habis itu kemarin yang sudah disetujui RKAB-nya berapa, terus habis itu nanti ya paling nambah-nambah sedikit doang. Jadi penambahan untuk nikel tidak terlalu signifikanlah, hanya untuk mengejar yang itu," tambahnya.

Tri juga menambahkan bahwa proses evaluasi pengajuan revisi RKAB ini akan terus berjalan hingga batas akhir pada 31 Juli 2026.

Menurutnya, Kementerian ESDM akan bersikap tegas dalam menyaring permohonan dari para pengusaha tambang.

"Kalau angkanya belum clear, tetapi maksudnya hanya untuk mengejar yang [kekurangan] itu. Jangan sampai kita tahan, pokoknya jangan sampai ada oversupply. Itu saja," tegas Tri.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.

Nikel dilego di harga US$16.765/ton pada di London Metal Exchange (LME) hari ini, turun tipis 0,01% dari penutupan sebelumnya..

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages