Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Pada Rabu, pasar uang memajukan perkiraan waktu kenaikan suku bunga The Fed berikutnya menjadi Oktober dari sebelumnya Desember. Meski demikian, investor kembali memburu saham-saham semikonduktor karena optimisme terhadap belanja AI dinilai mampu mengimbangi sebagian kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi.
"Meski perkembangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian, pasar tampaknya tidak melihat situasi ini sebagai alasan untuk sepenuhnya meninggalkan pasar saham," kata Takashi Ito, Senior Strategist Nomura Securities. "Logika yang berkembang saat ini adalah investor masih bisa terus berinvestasi di saham AI dan semikonduktor yang diperkirakan menawarkan imbal hasil jangka panjang yang tinggi."
Penguatan saham chip pada Kamis terjadi setelah sektor tersebut sempat tertekan pada awal pekan. Saat itu, lonjakan laba Samsung Electronics Co. hingga 19 kali lipat ternyata belum cukup untuk menarik minat investor.
Investor juga mencermati pergerakan pasar obligasi setelah aksi jual tajam pada Rabu.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik hingga lima basis poin menjadi 4,23%, hanya terpaut satu basis poin dari level tertinggi bulan lalu. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik hingga empat basis poin ke level tertinggi sejak akhir Mei.
Dalam pertemuan kebijakan terbaru, sejumlah pejabat The Fed menilai terdapat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga, meski pada akhirnya mereka tetap memutuskan mempertahankan biaya pinjaman. Secara umum, risalah rapat bulan Juni menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, sementara kecemasan mengenai pasar tenaga kerja sedikit mereda.
Sementara itu, analis senior Ed Yardeni menilai pecahnya gencatan senjata antara AS dan Iran berisiko memicu kembali percepatan inflasi, yang pada akhirnya dapat memaksa The Fed menaikkan suku bunga.
Komando Pusat Militer AS (US Central Command) menyatakan serangan tambahan tersebut dilancarkan "untuk semakin melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz."
"Sampai saat ini, kita sudah melalui beberapa putaran eskalasi dan deeskalasi, sehingga pasar mulai terbiasa dengan situasi tersebut," ujar analis pasar eToro, Zavier Wong. "Kenaikan harga minyak akibat eskalasi terbaru ini bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi levelnya masih jauh di bawah lonjakan yang terjadi saat konflik ini pertama kali pecah."
Pergerakan utama pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 relatif tidak berubah hingga pukul 09.59 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng turun 0,2%.
- Kontrak berjangka Nikkei 225 (OSE) naik 2%.
- Indeks Topix Jepang naik 0,4%.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,7%.
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 naik 0,9%.
Mata uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
- Euro stabil di level US$1,1425.
- Yen Jepang stabil di kisaran 162,44 per dolar AS.
- Yuan offshore relatif tidak berubah di level 6,8045 per dolar AS.
Kripto
- Bitcoin stabil di US$62.077,23.
- Ether stabil di US$1.736,82.
Obligasi
- Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun relatif tidak berubah di 4,58%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 2,885%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 4,90%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,7% menjadi US$74,02 per barel.
- Harga emas spot relatif tidak berubah.
Artikel ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)




























