Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga minyak mentah AS menyentuh US$72 per barel pada perdagangan setelah jam bursa, setelah Departemen Keuangan AS mencabut pengecualian (waiver) yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi dapat memicu inflasi mendorong aksi jual obligasi pemerintah AS (Treasuries).
Gelombang serangan tersebut menjadi pengingat bahwa risiko terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis itu masih tinggi, dengan meningkatnya ketegangan yang mengancam kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan semikonduktor global juga menghadapi gejolak akibat kekhawatiran mengenai meningkatnya persaingan, potensi kelebihan kapasitas produksi, serta apakah investasi AI senilai miliaran dolar pada akhirnya akan memberikan hasil yang sepadan.
"Kami tetap yakin terhadap prospek pertumbuhan AI dan masih melihat peluang yang menarik di sektor semikonduktor serta perangkat keras. Namun, kami juga telah menekankan bahwa fase kenaikan berikutnya di pasar saham kemungkinan akan ditandai oleh meluasnya kepemimpinan pasar ke lebih banyak sektor," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office. "Investor sebaiknya memastikan portofolionya terdiversifikasi."
"Isu rotasi antar sektor memang sedang menjadi perhatian utama saat ini, tetapi rotasi di dalam sektor teknologi sendiri mungkin justru lebih penting untuk dicermati," ujar Matt Maley dari Miller Tabak.
"Jika rotasi itu terus berlanjut, investor bullish akan tetap memegang kendali pasar."
Maley menambahkan reli pasar saham telah "mulai mendatar" dalam empat hingga enam pekan terakhir. Namun, menurutnya kondisi tersebut bisa saja hanya merupakan jeda sementara setelah reli yang sangat kuat sepanjang April dan Mei.
Meski musim laporan keuangan akan dimulai pekan depan dengan hasil kinerja bank-bank besar, pertanyaan mengenai prospek sektor teknologi akan menjadi sorotan utama sepanjang musim pelaporan.
Risiko terbesar, menurut analis senior Ed Yardeni, adalah perusahaan-perusahaan teknologi, khususnya kelompok hyperscaler, gagal melampaui proyeksi analis yang dinilai terlalu optimistis untuk kuartal tersebut.
"Hal itu dapat memicu koreksi pada saham-saham teknologi," ujarnya.
"Pasar saham secara keseluruhan mungkin dapat menghindari koreksi apabila investor mengalihkan dana ke sektor-sektor yang selama ini tertinggal namun mampu membukukan laba yang melampaui ekspektasi. Kami termasuk pihak yang meyakini skenario rotasi sektor untuk prospek pasar saham ke depan."
Pandangan Strategis Bloomberg
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah ini merupakan titik balik besar, yakni pembalikan struktural utama dalam perdagangan bertema AI. Namun, cukup adil untuk mengatakan bahwa era perdagangan AI yang 'mudah'—ditandai reli parabola yang mulus—kemungkinan memang sudah berlalu."
— Cameron Crise, Strategis Makro Bloomberg
(bbn)






























