Harga emas juga melemah di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga.
Secara keseluruhan, langkah AS tersebut menjadi ancaman paling serius sejauh ini terhadap kesepakatan sementara yang ditandatangani para pemimpin kedua negara pada 17 Juni.
Langkah itu juga mengancam menggagalkan perundingan yang bertujuan mencapai perdamaian permanen dalam waktu 60 hari sejak kesepakatan tersebut.
Target serangan maupun jumlah korban belum dapat dipastikan. Namun, kantor berita Iran Mehr melaporkan ledakan terdengar di dekat Selat Hormuz.
Kedua pihak saling menuduh telah melanggar gencatan senjata. AS menyalahkan Iran atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dalam sehari terakhir, yang disebut sebagai jumlah terbanyak sejak kesepakatan mulai berlaku.
Sementara itu, Iran menyatakan operasi militer AS dan pencabutan waiver tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan kedua negara. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi berjanji akan mengambil "tindakan tegas" sebagai respons.
Seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai praktik umum sebelum serangan udara dilakukan, mengatakan Iran hanya akan memperoleh manfaat dari kesepakatannya dengan AS apabila menunjukkan sikap yang baik.
Meski demikian, pejabat tersebut menambahkan bahwa para negosiator masih melanjutkan pembicaraan dengan itikad baik untuk mencapai kesepakatan final, mengindikasikan bahwa AS belum siap sepenuhnya meninggalkan proses perdamaian.
Penghentian serangan terhadap kapal-kapal komersial serta waiver selama 60 hari yang memungkinkan Iran menjual minyak merupakan elemen utama dalam nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran antara AS dan Iran.
Kesepakatan tersebut dimaksudkan untuk membuka ruang bagi perundingan yang lebih rinci mengenai masa depan program nuklir Iran serta pengaturan Selat Hormuz.
Meski begitu, nota kesepahaman itu hanya bertahan secara rapuh. Pada akhir Juni, Iran menyerang sebuah kapal kontainer berbendera Singapura di Selat Hormuz, yang memicu serangan balasan dari AS dan memulai rangkaian aksi saling serang.
Teheran juga berulang kali menyatakan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasi jalur perairan tersebut tanpa persetujuannya, meskipun membantah keterlibatan dalam serangan terhadap kapal yang terkait dengan Qatar.
Presiden Donald Trump sebelumnya mendorong agar kapal-kapal dapat kembali melintasi selat itu secara bebas seperti sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group dan mantan pejabat Gedung Putih, mengatakan pencabutan waiver tersebut "merupakan sinyal kepada pasar yang terlalu cepat merasa tenang bahwa gencatan senjata mungkin tidak sekuat dan setahan yang diperkirakan. Pasar kini harus kembali memperhitungkan premi risiko."
Gelombang serangan terbaru menjadi pengingat bahwa risiko bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz masih tinggi, meskipun terdapat perlindungan militer bagi kapal yang memilih melintas melalui jalur dekat pantai Oman.
Menurut Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle, Iran juga berupaya mengarahkan kapal-kapal komersial mendekati wilayah pantainya dan mencegah mereka menggunakan jalur di sisi Oman.
Ia mengatakan Iran telah memasang ranjau laut di selat tersebut sebagai cara untuk memaksa kapal-kapal berlayar lebih dekat ke wilayah Iran.
Tujuannya adalah "memaksa pelayaran memasuki sisi Iran di Selat Hormuz," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg This Weekend, yang sebagian akan ditayangkan pada Minggu.
"Iran bertekad menunjukkan bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz dan bahwa satu-satunya cara melintas dengan aman adalah melalui jalur utara," kata Claire McCleskey, salah satu pendiri perusahaan konsultan sanksi Clarity Compliance Consulting sekaligus mantan pejabat Departemen Keuangan AS.
Perubahan sikap AS terjadi ketika arus ekspor dan produksi minyak dari Teluk Persia mulai kembali mendekati tingkat sebelum perang. Otorisasi AS yang mengizinkan penjualan minyak Iran sebelumnya berperan penting meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi kekurangan pasokan dan membantu menekan harga minyak.
Kini, kembalinya konflik serta ancaman baru terhadap arus energi melalui Selat Hormuz yang strategis berpotensi kembali mengguncang pasar global.
Harga minyak acuan dunia Brent sempat mencapai hampir US$125 per barel pada akhir April, sekitar dua bulan setelah AS dan Israel meluncurkan kampanye militer terhadap Iran. Harga kemudian kembali mendekati level sebelum konflik pada bulan ini seiring munculnya tanda-tanda pemulihan.
Perundingan antara AS dan Iran sempat ditangguhkan ketika Teheran menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang pada akhir Februari.
Qatar menyatakan pertemuan berikutnya akan dijadwalkan sesegera mungkin setelah rangkaian upacara tersebut selesai. Khamenei dijadwalkan dimakamkan di kampung halamannya, Mashhad, pada 9 Juli.
Salah satu pertanyaan utama dalam beberapa hari mendatang adalah apakah AS akan kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran. Langkah tersebut akan menjadi pelanggaran tambahan terhadap kesepakatan sementara.
"Ini merupakan ekspresi frustrasi pemerintahan saat ini," kata David Schenker, mantan pejabat AS untuk kawasan Timur Tengah pada masa pemerintahan pertama Trump dan peneliti di Washington Institute for Near East Policy, mengenai serangan terbaru AS.
"Harapan bahwa Iran akan mematuhi kesepakatan ternyata terlalu optimistis," ujarnya. "Ini adalah perang yang terus berlarut-larut."
(bbn)





























