Logo Bloomberg Technoz

Dalam laporannya, UBS menilai pelemahan rupiah belum mencapai titik balik, melainkan hanya memasuki titik jeda, sebelum melanjutkan tren depresiasi. Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) dalam sekitar sebulan dan pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit fiskal di kisaran 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Menurut UBS, akar persoalan rupiah kini lebih banyak berasal dari faktor domestik, yakni memburuknya neraca eksternal, menurunnya arus modal asing ke level terendah dalam hampir dua dekade, serta melemahnya kepercayaan investor akibat ketidakpastian kebijakan.

Selain itu, UBS juga mencatat perlambatan permintaan komoditas dari China turut mempersempit sumber devisa Indonesia. Sebagai catatan, posisi cadangan devisa pada Juni sedikit membaik menjadi US$145,6 miliar dari sebelumnya US$144,9 miliar tertopang oleh penerimaan pajak dan jasa. 

Ke depan, UBS memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak menuju kisaran Rp18.500-19.000/US$ pada semester II-2026.

Berdasarkan model UBS, kombinasi defisit transaksi berjalan yang melebar hingga sekitar 1,5% PDB dan sikap hawkish Federal Reserve dapat membuat Indonesia membutuhkan selisih suku bunga terhadap AS sekitar 4-4,5% hanya untuk menstabilkan rupiah, atau sekitar 150 bps lebih tinggi dari posisi saat ini. 

Lebih lanjut, UBS menilai yield Surat Utang Negara (SUN) belum cukup menarik untuk mengompensasi risiko nilai tukar sehingga investor diperkirakan baru akan kembali agresif masuk jika yield SUN tenor 10 tahun naik di atas 7,5%, disertai kebijakan yang lebih konsisten dalam menjaga stabilitas rupiah, perbaikan iklim investasi, dan yang lebih penting memperkuat disiplin fiskal. 

"Normalisasi imbal hasil obligasi masih berpotensi terhambat oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi, sedangkan pelonggaran regulasi dan penyesuaian fiskal hanya memberikan dampak terbatas karena penghematan yang dihasilkan hanya sekitar 0,15-0,2% PDB, sementara defisit fiskal diperkirakan tetap berada di kisaran 3% PDB," sebut laporan UBS, dikutip Selasa (7/7/2026). 

Untuk diketahui, yield SUN 10 tahun kini berada di kisaran 7,13%, berada jauh di bawah yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) 7,67% dengan tenor yang jauh lebih pendek, 12 bulan. 

(dsp/aji)

No more pages