Namun, bagi Maheswara yang merupakan pekerja asal Jakarta, dia tetap memilih menggunakan Pertamax di tengah kenaikan harga karena kompresi mesin kendaraannya hanya cocok dengan BBM dengan RON 92. Lagipula, dia juga mendapatkan tunjangan transportasi dari kantornya.
"Kalau saya sendiri sebulan [biaya BBM-nya] Rp280.000 sampai Rp300.000. Kayanya [setelah kenaikan Pertamax] sekarang bisa Rp400.000 lebih. Asumsinya saya butuh maksimal 7 liter per minggu," ujar Maheswara saat berbincang dengan Bloomberg Technoz.
Siasat Pemerintah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui terdapat potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite usai harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi RON 92 tersebut mengalami kenaikan sebesar 32% menjadi Rp16.250/liter.
Kendati begitu, Kementerian ESDM telah menyiapkan langkah mitigasi dengan mendorong pemanfaatan subsidi tepat sasaran melalui sejumlah langkah pengetatan.
Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) telah memiliki sistem MyPertamina yang mewajibkan pembelian BBM bersubsidi menggunakan QR-code.
Selain itu, dia menyatakan Kementerian ESDM bakal terus menindak oknum-oknum yang kerap menggunakan BBM bersubsidi tidak untuk peruntukannya.
“Antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Misalnya, saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya,” Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).
“Walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini. Namun, Menteri ESDM sudah meminta untuk Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah.”
(wep)





























