Sebelumnya pasar terus memperhitungkan potensi pelebaran defisit fiskal jika pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menjaga harga energi domestik tetap terkendali, demi menjaga daya beli masyarakat.
Meski begitu, menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas, potensi defisit fiskal dapat lebih ditekan jika diikuti oleh penghematan program Makan Bergizi Gratis (MBG), setidaknya Rp100-Rp120 triliun.
Secara terpisah, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah mengirim sinyal adanya upaya penghematan, dengan potensi penyesuaian berupa pengurangan total kebutuhan anggaran untuk program MBG.
Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini bukan pemangkasan paksa, melainkan hasil dari perhitungan yang lebih cermat di lapangan. Prasetyo juga menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang melakukan proses penataan menyeluruh terhadap sistem distribusi dan implementasi program MBG.
Di tengah upaya penataan sistem distribusi, dan penyesuaian anggaran MBG, masalah operasional seperti ekspansi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melebihi target masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar, terkait tata kelola program tersebut.
Di sisi lain, pemerintah telah manghimpun utang baru senilai Rp386 triliun hingga Mei 2026. Kebijakan fiskal masih akan menjadi sorotan pelaku pasar menjelang paruh kedua tahun ini.
Sementara itu, aksi jual masih melanda di pasar saham dan obligasi. Melansir data yang dihimpun Bloomberg, kemarin investor asing tercatat melepas kepemilikan saham sebesar US$14 juta secara harian, dan US$142,3 juta secara mingguan.
Sedangkan, di pasar obligasi, asing melepas obligasi Indonesia senilai US$51 juta secara harian, dan US$107,8 secara mingguan, pe/2026r Rabu (10/6). Meski begitu, di pasar obligasi asing masih membukukan kepemilikan obligasi sebesar US$267,9 juta secara bulanan.
Namun, angin segar datang dari upaya Danantara yang berhasil menghimpun dana sebesar US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi global pertamanya. Obligasi tersebut diterbitkan dalam dua tenor, 5 tahun dan 10 tahun, dengan nilai masing-masing US$750 miliar, dengan imbal hasil 5,35%.
Pasar Asia
Sementara itu, pemangkasan harga minyak mentah disambut positif oleh sejumlah mata uang kawasan. Di pasar yang sudah buka, won Korea Selatan kembali rebound 0,79%, disusul baht Thailand 0,5%, dan ringgit Malaysia 0,21%.
Sedangkan, yen Jepang memimpin pelemahan 0,18%, disusul dolar Singapura 0,07%, dan yuan offshore 0,05%.
Sentimen positif juga tercermin di pasar saham kawasan. Bursa Jepang dan Australia menguat sehingga mendorong MSCI Asia Pacific Index naik 2%. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan melonjak hingga 7%, ditopang reli saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Optimisme investor menguat setelah muncul sinyal bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat dengan penyelesaian diplomatik, sehingga pasar mulai memperkirakan konflik Timur Tengah tidak akan meluas.
"Meski jalan menuju penyelesaian kemungkinan tidak mulus, skenario dasar kami adalah diplomasi pada akhirnya menang sehingga investor dapat kembali fokus pada fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan laba yang solid," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS, seperti dikutip Bloomberg News.
Meredanya kekhawatiran geopolitik juga membantu menurunkan tekanan di pasar energi, sehingga memberi ruang bagi investor untuk kembali fokus pada prospek pertumbuhan ekonomi global dan tren investasi berbasis AI yang masih jadi motor utama reli pasar saham tahun ini.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali menguat pada perdagangan hari ini. Rupiah punya kesempatan menuju resistance terdekat di level Rp17.950/US$.
Resistance potensial selanjutnya menuju Rp17.900/US$, dan berlanjut ke Rp17.870/US$ sebagai level paling optimistis penguatan rupiah dalam tren jangka pendek.
Selanjutnya, rupiah memiliki level support psikologis di level Rp18.000/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi laju support selanjutnya di Rp18.100-18.200/US$.
(riset/aji)



























