Logo Bloomberg Technoz

Dia menerangkan proyeksi itu berdasar pada tensi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda yang belakangan ikut menopang harga minyak mentah dunia.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah terdepresiasi 0,48% ke posisi Rp17.874 per dolar AS. Ini menjadi posisi rupiah yang terlemah sepanjang sejarah.

Sepanjang Mei, mata uang republik secara bertahap melemah dan tercatat membukukan depresiasi 2,91%. Rupiah pun sah melemah tiga bulan beruntun. 

Pelemahan rupiah yang terjadi pada Mei hampir 3% itu lantas membawa rupiah di ambang level psikologis baru: Rp18.000 per dolar AS.

Level psikologis baru rupiah ini sebenarnya masuk ke dalam perhitungan skenario buruk para ekonom jika harga minyak mentah berada di atas US$100 per barel dalam waktu yang lama, dan pemerintah tidak melakukan intervensi kebijakan yang ekstrem untuk menjaga volatilitas rupiah. 

Namun, kondisi pasar yang sangat sensitif pada hari terakhir bulan Mei ini membawa selisih yang semakin tipis antara posisi rupiah dengan level psikologis barunya. 

Kerentanan rupiah hari ini berasal dari faktor global dan domestik. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pelaku pasar global saat ini masih menunggu kepastian kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Menurut Josua, memang ada kabar positif bahwa kedua pihak mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata 60 hari, dan harga minyak Brent turun ke sekitar US$92,85 dolar AS per barel, setelah selama beberapa pekan bertahan di atas US$100 per beral.

Namun, kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump, sementara analisis satelit aktivitas energi di kawasan Teluk belum sepenuhnya normal meski sudah ada gencatan senjata.

"Artinya, risiko minyak turun memang membantu rupiah, tetapi risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya," kata Josua. 

Dari sisi domestik, tekanan rupiah lebih berat karena pasar masih melihat kebutuhan dukungan struktural, bukan hanya intervensi jangka pendek. Pelaku pasar masih menunggu dukungan yang lebih kuat dari masuknya Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan disiplin transaksi berjalan. 

"Ini penting karena selama pasokan dolar dari ekspor belum cukup kuat, sementara kebutuhan dolar untuk impor, utang luar negeri, dividen, dan energi tetap tinggi, rupiah akan mudah tertekan setiap kali ada guncangan sentimen" kata Josua. 

Sebagai catatan, pelaku pasar saat ini masih mencermati kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menempatkan DHE di dalam negeri. Namun, para trader meragukan aturan tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan cadangan devisa.

Sebab, dana tersebut pada dasarkan tetap berada di bawah kendali eksportir meskipun disimpan dalam sistem keuangan domestik. 

Kurva Imbal Hasil

Sebagian pelaku pasar menyoroti bentuk kurva imbal hasil atau yield curve obligasi Indonesia terlalu datar.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan sinyal yang keliru kepada investor global mengenai harga risiko yang sebenarnya di Indonesia.

“Saat ini kita melihat tenor satu tahun dan tenor sepuluh tahun sama-sama berada di kisaran 6,7%,” kata Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian lewat keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).

Menurut Fakhrul kondisi ini tidak lazim terjadi. Fakhrul mengatakan investor yang membeli obligasi sepuluh tahun mestinya mendapatkan premi risiko yang lebih tinggi dibanding investor yang membeli instrumen satu tahun.

“Ketika kedua tenor tersebut memiliki imbal hasil yang hampir sama, pasar mulai mempertanyakan mekanisme price discovery yang terjadi,” kata Fakhrul.

Ia menjelaskan bahwa salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah adalah persepsi investor bahwa premi risiko Indonesia saat ini belum sepenuhnya tercermin dalam pasar obligasi jangka panjang.

Menurut dia, perbaikan struktur kurva imbal hasil justru akan membantu memperkuat stabilitas jangka panjang dan mengurangi tekanan terhadap Rupiah.

“Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset Rupiah menjadi berkurang,” tuturnya.

(naw)

No more pages