Inflasi AS Melandai, Begini Nasib Rupiah di Luar Negeri
Tim Riset Bloomberg Technoz
15 July 2026 08:50

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sedikit terpangkas menjadi 0,17% di Rp18.129/US$ pada 07:40 WIB, setelah tadi pagi pada 06:00 WIB sempat bertengger di Rp18.271/US$.
Volatilitas rupiah pagi ini disebabkan oleh melonjaknya harga minyak mentah yang kembali naik 1,39% menjadi US$85,9 per barel, menyusul ketidakpastian yang masih melanda Timur Tengah dengan kembalinya Amerika Serikat (AS) dan Iran bersitegang. Kondisi tersebut meningkatkan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan yang dapat menyebabkan inflasi.
Meski begitu, sebagian mata uang kawasan hari ini bergerak menguat. Di pasar yang sudah buka, terlihat ringgit memimpin penguatan bersama baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, yuan China dan yuan offshore. Sebaliknya, won Korea Selatan kembali melemah.
Penguatan sebagian mata uang kawasan ditopang oleh berkurangnya ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) Fed Funds Rate (FFR) pada Juli, setelah data inflasi yang dirilis Selasa waktu setempat menunjukkan perlambatan pada Juni, untuk kali pertama dalam enam tahun. Perlambatan terhadap inflasi AS jadi angin segar bagi aset di Asia.
Ketua The Fed, Kevin Warsh mengakui bahwa data inflasi Juni lebih baik dari ekspektasi, tetapi menurutnya perjuangan masih panjang. "Saya tidak datang ke sini dan mengatakan misi telah selesai, yang bisa saya katakan adalah masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Warsh dalam rapat bersama Kongres, seperti dikutip Bloomberg News.



























