Prediksi Rupiah Hari Ini, Bisa ke Bawah Rp18.000/US$?
Tim Riset Bloomberg Technoz
15 July 2026 09:27

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah dibuka menguat 0,11% ke Rp18.073/US$ pada Rabu (15/7/2026), seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) dengan inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai.
Pergerakan rupiah pagi ini sejalan dengan mata uang Asia yang mayoritas menguat. Ringgit memimpin penguatan, disusul rupiah yang menjadi runner up pagi ini, lalu dolar Taiwan, dan peso Filipina. Hanya won Korea Selatan yang masih menyisakan pelemahan terbatas.
Inflasi AS yang tercatat 3,5% pada Juni di bawah ekspektasi ekonom 3,8% dan turun dari posisi Mei yang berada di 4,2% membawa angin segar bagi mata uang kawasan. Dengan melandainya inflasi AS, maka ekspektasi terhadap langkah hawkish The Fed menjadi terpangkas.
Namun begitu, pasar menilai pesan Ketua The Fed, Kevin Warsh, belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi kebijakan dalam waktu dekat. Setelah data inflasi dirilis, pelaku pasar memperkirakan siklus pengetatan moneter akan berlangsung lebih hati-hati. Ekspektasi tersebut membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS cenderung stabil, sementara indeks dolar AS kehilangan sebagian penguatannya dan berada di posisi 100,88 setelah melemah tipis 0,04%.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak masih berlanjut untuk hari ketiga beruntun. Harga minyak Brent bergerak mendekati US$86 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$80 per barel. Ketegangan antara AS dan Iran jadi biang keladinya. Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengancam akan memperluas serangan militer apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.




























