Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Melemah Nyaris Rp17.900/US$, Industri Masuk Survival Mode

Merinda Faradianti
28 May 2026 14:30

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menekan kondisi industri nasional. 

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan situasi saat ini tidak lagi sekadar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), melainkan sudah memasuki fase bertahan hidup atau survival mode (mode bertahan).

“Saat ini kita menghadapi perfect storm, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan suku bunga, cash flow shortage akibat restitusi tertahan dan tekanan karena konsolidasi regional atau global operation yang akan mengurangi operasi di beberapa negara [FDI outflow],” kata Bob kepada Bloomberg Technoz, Kamis (28/5/2026).


Menurut dia, perusahaan saat ini sedang berusaha bertahan dengan cara menekan biaya dan meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin, lantaran beban usaha yang terus naik. Di mana, perusahaan telah mencoba menanggung kenaikan biaya produksi sebanyak mungkin.

Namun, perusahaan tidak bisa langsung menaikkan harga karena daya beli masyarakat juga melemah. Jika dipaksakan untuk menaikkan harga, maka angka penjualan sudah bisa dipastikan akan turun.