Logo Bloomberg Technoz

“Efisiensi dan produktivitas secara lebih radikal tidak terelakkan untuk bertahan dalam upaya meng-absorb semua kenaikan biaya as much as possible as we can,” tambahnya.

Senada, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil mengatakan pelemahan rupiah akan langsung berdampak pada kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi industri tekstil.

Ia menyebut salah satu bahan baku yang naik adalah Mono Ethylene Glycol (MEG) yang saat ini masih diimpor dari Arab Saudi. Tak hanya itu, dengan melemahnya nilai tukar ditambah dengan harga minyak dunia yang juga melambung, harga polyester juga akan meningkat tajam.

Farhan menjelaskan ketika harga minyak dunia melambung, harga bahan baku tersebut telah melonjak hampir 40%, turut memperberat tekanan industri. 

Jika ditambah pelemahan rupiah, kenaikan biaya diperkirakan bisa mencapai sekitar 10%. Dengan kata lain, kenaikan yang ditimbulkan mencapai 50% untuk bahan baku produksi saja.

“Iya, sekitar segitu. Itu jika di-kurs-kan ke dalam rupiah,” ujarnya.

Farhan juga menyoroti derasnya arus impor yang masih membanjiri pasar domestik. Menurut dia, kondisi itu membuat rantai pasok industri tekstil nasional semakin tertekan.

“Rantai pasok industri tekstil sudah terputus dan menjadi dampak panjang dari deindustrialisasi yang terus terjadi di Indonesia. Melemahnya rupiah hari ini adalah efek jangka panjang membebaskan produk impor dijual langsung ke pasar domestik tanpa diolah terlebih dahulu,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah segera melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini dinilai penting karena pelaku industri membutuhkan kestabilan nilai tukar.

“Walaupun kami transaksi domestik menggunakan rupiah, namun rate pembayarannya masih menggunakan dolar,” tutur Farhan.

Sebagai catatan, pergerakan rupiah di pasar luar negeri memang semakin tertekan dan hampir menyentuh Rp17.900 per dolar AS dalam sesi perdagangan tadi malam waktu Indonesia, saat pasar domestik libur memperingati Iduladha.

Melansir data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.892/US$ pada sesi perdagangan di luar negeri pada pukul 23.59 WIB. Namun, rupiah berhasil ditutup di level Rp17.886/US$, atau melemah 0,25%.

Hari ini, Kamis (28/5/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan, lalu bergerak menguat tipis 0,22% ke posisi Rp17.846/US$ pada pukul 06.02 WIB.

Adapun pada penutupan perdagangan sebelum libur Iduladha, Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.789/US$, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.

Pada perdagangan Selasa lalu, rupiah bahkan beberapa kali mencetak level terendah baru. Dari posisi Rp17.749/US$ saat pembukaan, rupiah melemah ke Rp17.786/US$ pada pukul 10.02 WIB, lalu menyentuh Rp17.794/US$ pada pukul 14.04 WIB.

(mef/ros)

No more pages