Logo Bloomberg Technoz

Mata Uang Asia Tiarap, Dihantam Kenaikan Harga Minyak

Redaksi
28 May 2026 13:45

Ilustrasi mata uang dolar AS dan baht Thailand (Udo Weitz/Bloomberg News)
Ilustrasi mata uang dolar AS dan baht Thailand (Udo Weitz/Bloomberg News)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mata uang kawasan Asia hari ini (28/5/2026) terpukul oleh kabar kembali meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, dan menyebabkan harga minyak mentah dunia kembali naik. 

Baht Thailand menjadi mata uang paling tertekan siang ini pada 13.10 WIB dengan pelemahan 0,39%, disusul won Korea Selatan 0,38%, ringgit Malaysia 0,23%, dolar Singapura 0,16%, yuan offshore 0,06%, yuan China 0,05%, dolar Taiwan 0,04%, dan yen Jepang 0,02%. 

Mata uang Asia kembali melemah, terimbas oleh ketegangan AS dan Iran. (Bloomberg)

Harga minyak mentah jenis Brent kembali terkerek 3,1% ke level US$97,09 per barel, dan minyak WTI naik 3,32% ke US$91,64%. 


Kenaikan harga minyak ini terjadi lantaran AS dikabarkan kembali melancarkan serangan udara ke fasilitas militer Iran, setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai Selat Hormuz, yang menjadi jalur pelayaran vital dunia. 

"Pendorong utama pelemahan mata uang Asia pada Kamis ini adalah meningkatnya kembali permusuhan di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak spot dan imbal hasil obligasi AS," kata Maximillian Lin, strategis valas dan suku bunga Asia di Canadian Imperal Bank of Commerce, seperti dikutip Bloomberg News.