Logo Bloomberg Technoz

Bitcoin Melemah saat Kekhawatiran Inflasi Meningkat

Redaksi
14 July 2026 07:40

Kesenjangan Bitcoin dengan Teknologi Semakin Lebar Setelah Penjualan Strategi Memicu Penurunan Harga (Bloomberg)
Kesenjangan Bitcoin dengan Teknologi Semakin Lebar Setelah Penjualan Strategi Memicu Penurunan Harga (Bloomberg)

Matthew Brockett - Bloomberg News

Bloomberg, Bitcoin melemah pada Senin (13/7/2026) setelah harga minyak melonjak menyusul serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Kenaikan biaya energi memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan kembali meningkat dan mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.

Kripto terbesar di dunia itu sempat turun hingga 3,8% ke US$61.761 atau sekitar Rp1,12 miliar (dengan asumsi kurs Rp18.069/US$) sebelum memangkas pelemahannya. Penurunan tersebut membawa Bitcoin kembali berada di bawah rata-rata pergerakan (moving average) 200 pekan, level teknikal yang kerap menjadi sinyal dimulainya pasar bearish berkepanjangan. Ether, aset kripto terbesar kedua, juga sempat turun hingga 3,9%.


"Secara historis, ketika harga menyentuh rata-rata pergerakan 200 pekan, itu menjadi sinyal yang cukup baik bahwa fase utama koreksi Bitcoin mulai berakhir dan menjadi titik yang tepat untuk mulai membangun posisi investasi jangka panjang secara bertahap," tulis Kepala Analis Pasar FxPro Alex Kuptsikevich dalam catatannya. "Namun, penting untuk dipahami bahwa narasi tersebut dapat berubah dengan cepat dan tidak menjanjikan pemulihan harga dalam waktu singkat."

Bitcoin Turun di bawah rata-rata pergerakan200 pekan

Meningkatnya kembali konflik antara AS dan Iran memicu kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akan kembali mendorong inflasi dan suku bunga. Kondisi tersebut biasanya mengalihkan aliran dana dari aset berisiko seperti Bitcoin.