Logo Bloomberg Technoz

Sikap Abu Dhabi menunjukkan perubahan bagi negara yang menanggung beban serangan Iran dan selama ini bersikap lebih keras daripada negara-negara tetangganya terhadap Teheran.

Pesawat jet F/A-18F Super Hornet di USS Gerald R. dok: Bloomberg

UEA, Arab Saudi, dan Qatar memiliki perbedaan pendapat mengenai jenis kesepakatan diplomatik yang harus diupayakan AS dan seberapa keras AS harus bersikap terhadap Iran, kata para sumber tersebut. Namun, upaya mereka untuk menjalin komunikasi dengan Trump menggarisbawahi kewaspadaan bersama mereka terhadap terulangnya situasi antara akhir Februari, ketika Israel dan AS melancarkan perang terhadap Republik Islam Iran, dan gencatan senjata pada awal April.

Iran dan kelompok-kelompok militan yang didukung Teheran di Irak membalas dengan meluncurkan ribuan drone dan rudal ke seluruh wilayah Teluk, menewaskan puluhan orang dan menyebabkan kerusakan senilai miliaran dolar pada pelabuhan serta infrastruktur energi.

“Negara-negara Arab Teluk melihat kecemasan terburuk mereka menjadi kenyataan. Mereka terjebak di tengah-tengah perang AS-Iran dan menderita banyak dampak buruknya. Mereka kini menghadapi prospek konfrontasi baru jika gencatan senjata tidak dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan permanen, dengan citra mereka sebagai surga regional yang stabil berada dalam risiko,” kata Dina Esfandiary, seorang analis di Bloomberg Economics.

UAE merasa frustrasi ketika Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya menolak untuk merespons secara kolektif dengan kekuatan militer terhadap Iran guna mencegah serangannya, seperti dilaporkan Bloomberg News.

Abu Dhabi melakukan serangan terbatas terhadap Iran bekerja sama dengan AS dan Israel, sementara Arab Saudi mengambil tindakan serupa secara terpisah, kata sumber yang mengetahui masalah ini.

Iran dan AS menyepakati gencatan senjata pada 8 April dan bertukar pesan melalui Pakistan mengenai kesepakatan damai. Keduanya masing-masing menyatakan siap untuk melanjutkan permusuhan dan menunjukkan sedikit tanda-tanda akan membuat konsesi.

Walau begitu, Menteri Luar Negeri Trump, Marco Rubio, pada hari Jumat mengatakan ada “kemajuan kecil” dalam negosiasi dan media Iran membuat komentar serupa. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dijadwalkan mengunjungi Iran pada hari yang sama, sebagai tanda kemungkinan kedua belah pihak semakin mendekati kesepakatan.

Kekecewaan UEA terhadap negara-negara Arab lainnya memuncak pada keputusan mengejutkannya pada akhir April untuk keluar dari OPEC, sebuah kartel minyak yang dipimpin oleh Arab Saudi. 

Namun, sejak saat itu hubungan dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) telah membaik. GCC adalah badan yang beranggotakan enam negara, yaitu UEA, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

“UEA terus melakukan koordinasi dan konsultasi yang erat dengan negara-negara anggota Gulf Cooperation Council , bersama dengan mitra regional dan internasional,” kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan kepada Bloomberg pada hari Kamis.

Pamer Kekuatan Militer

Pada hari yang sama, semua anggota GCC kecuali Oman mengirim surat kepada badan pengawas pelayaran global menolak upaya Iran untuk mengendalikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz secara permanen. Tehran secara efektif menutup Hormuz  di awal perang, menghentikan ekspor minyak dan gas alam banyak negara GCC.

Persiapan memasok sejanta di USS Abraham Lincoln. dok: Bloomberg

Iran dan sekutunya masih memiliki kekuatan militer yang besar, meskipun militer Teheran telah hancur dan beberapa pemimpin kunci telah dibunuh selama perang.

Ancaman terhadap negara-negara Teluk semakin diperjelas pada hari Minggu lalu oleh serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir UEA, yang oleh Abu Dhabi dituduhkan kepada milisi yang didukung Iran di Irak.

Sehari setelahnya, Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed, dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad, dan bahwa mereka telah mencegah dirinya untuk menyerang Iran.

Beberapa pemimpin Teluk belum sepenuhnya yakin seruan mereka akan didengarkan dan khawatir Israel akan meyakinkan Trump untuk menyerang Iran lagi, kata salah satu sumber tersebut.

Yahudi, yang telah menjalin hubungan pertahanan dan keamanan yang lebih erat dengan UEA sejak dimulainya perang, memandang Republik Islam Iran sebagai ancaman eksistensial. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengisyaratkan bahwa serangan lebih lanjut diperlukan untuk semakin melemahkan militer Iran.

“Ada peluang 50-50 bahwa kita akan mencapai kesepakatan” dengan Iran, kata Anwar Gargash, penasihat senior presiden UEA, pada Jumat.

“Kekhawatiran saya adalah bahwa Iran selalu bernegosiasi berlebihan. Saya harap mereka tidak melakukannya kali ini karena kawasan ini memang membutuhkan solusi politik. Putaran kedua konfrontasi militer hanya akan memperumit situasi.”

Dilema

Trump berada dalam posisi yang sulit. Meskipun ia bertekad untuk menghancurkan program rudal balistik Iran dan bahkan sempat menyinggung soal penggantian rezim, perang tersebut telah menghabiskan puluhan miliar dolar AS. Dengan melonjaknya harga energi akibat penutupan Selat Hormuz, konflik ini semakin tidak populer di kalangan rakyat Amerika.

Trump terombang-ambing antara mengancam akan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran dan mengatakan bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan damai.

Arab Saudi mendukung mediasi melalui Pakistan dan percaya bahwa upaya untuk membuat Iran membatasi program nuklir dan rudal balistiknya hanya dapat diselesaikan melalui pembicaraan, kata beberapa sumber.

Pihak Kerajaan Saudi, serta UEA, berpendapat bahwa AS sebaiknya fokus untuk saat ini pada upaya meyakinkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mempertahankan blokade lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran agar melakukannya, kata para sumber tersebut.

Qatar terus mendukung upaya mediasi yang dipimpin Pakistan, kata seorang diplomat dari negara tersebut. Doha secara konsisten mengadvokasi de-eskalasi demi kepentingan kawasan dan penduduknya, kata diplomat tersebut.

Rekam Jejak Mojtaba Khamenei, Sang Penerus Takhta Iran (Bloomberg Technoz/Asfahan)

(bbn)

No more pages