Angka kerugian ini tercatat lebih tinggi dari estimasi sebelumnya. Sebuah laporan dari Congressional Research Service (Lembaga Riset Kongres AS) pada awal bulan ini sempat menyatakan bahwa jumlah Reaper yang hilang berada di angka 24 unit.
Pesawat tanpa awak ini digunakan secara masif dalam konflik melawan Iran karena para komandan militer berupaya menjaga agar para awak pilot jet tempur terhindar dari bahaya langsung. Walaupun AS berhasil menimbulkan kerusakan signifikan pada aset militer Iran—termasuk melumpuhkan sebagian besar kemampuan pertahanan udara mereka—beberapa titik di wilayah udara Iran terbukti tetap berbahaya bagi aset udara AS.
"Menjalankan perang dari jarak jauh tetap membutuhkan biaya yang besar," kata Becca Wasser, ketua tim analisis pertahanan di Bloomberg Economics. "MQ-9 memang dirancang untuk bisa digantikan karena tidak berawak, tetapi harganya terlalu mahal dan jumlahnya terlalu sedikit, tanpa adanya lini produksi aktif yang membuatnya bisa dianggap sebagai barang sekali pakai."
AS dan Israel pertama kali meluncurkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu. Kedua belah pihak saat ini masih terikat dalam gencatan senjata yang rapuh sejak 8 April, meskipun sesekali serangan sporadis dari kedua sisi masih terus terjadi.
Reaper berbaling-baling yang diproduksi General Atomics tersebut sudah tidak lagi diproduksi untuk kebutuhan militer AS. Hanya sekitar 10 unit drone serang generasi lanjutan bertenaga jet, Avenger, yang pernah dibuat. Varian Reaper masih diproduksi untuk pelanggan asing.
Kerugian Reaper senilai US$1 miliar ini menambah beban biaya perang AS dan Israel di Iran, yang telah menghabiskan ribuan amunisi kelas atas, termasuk rudal jelajah Tomahawk dan JASSM-ER.
AS juga telah kehilangan dua pesawat berawak di atas wilayah Iran sejauh ini: F-15E Strike Eagle dan A-10 Thunderbolt II. Seluruh awak berhasil diselamatkan. Kerugian aset udara AS lainnya mencakup satu unit pesawat sistem peringatan dan kontrol dini E-3 Sentry (AWACS), beberapa pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135, tiga unit jet tempur F-15 lainnya, serta dua unit pesawat kargo serbaguna MC-130J. Proses pengadaan kembali untuk mengganti seluruh pesawat yang hancur tersebut diperkirakan bakal menelan biaya hingga miliaran dolar AS.
AS juga kehilangan atau mengalami kerusakan pada sistem radar yang masing-masing bernilai ratusan juta dolar.
(bbn)





























