Logo Bloomberg Technoz

Sementara, peso Filipina diproyeksikan berada di level 60,8 pada akhir tahun, lebih lemah daripada proyeksi sebelumnya 59,8, menurut HSBC.

Pergerakan mata uang peso dari tahun ke tahun. (Bloomberg)

Sedangkan, HSBC memproyeksikan rupiah berada di level Rp17.400/US$ dari sebelumnya Rp.17.300/US$. Bahkan, BNY memproyeksikan angka yang lebih skeptis. Strategis BNY Wee Khoon Chong, seperti dikutip Bloomberg News menyebut rupiah berpotensi menembus level terendahnya hingga Rp18.000/US$ dalam jangka pendek. 

Pergerakan rupiah dari tahun ke tahun. (Bloomberg)

Tekanan di Pasar Obligasi

Selain mata uang, kenaikan harga minyak mentah juga ikut menekan pasar obligasi, karena dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan memperlebar defisit fiskal, terutama di negara-negara yang masih menahan harga bahan bakar minyak (BBM) melalui skema subsidi energi. 

Rajeev De Mello, Global Macro Portfolio Manager Gamma Asset Management SA., kenaikan harga minyak mentah dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan memperlebar defisit fiskal, terutama di negara-negara yang masih menahan harga bahan bakar minyak (BBM) melalui skema subsidi energi. 

"Jika harga energi terus naik, pelemahan terms of trade akan terus menekan mata uang negara-negara pengimpor minyak," kata De Mello, seperti dikutip Bloomberg News

Istilah terms of trade mengacu pada perbandingan antara harga barang ekspor dan impor suatu negara. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, kenaikan harga energi dapat membuat biaya impor meningkat jauh lebih cepat daripada pendapatan dari hasil ekspor. 

Indeks Bloomberg yang mengukur rata-rata yield obligasi tenor 10 tahun di tujuh negara berkembang Asia tercatat melonjak lebih dari 120 basis poin sejak konflik pecah. Kenaikan ini merupakan posisi tertinggi sejak November 2023. 

Lebih lanjut, Indeks Bloomberg yang mengukur yield obligasi pemerintah Indonesia juga mencatat kenaikan 7% dari tahun lalu. Yield tenor 2 tahun naik 1,2 basis poin (bps) menjadi 6,53%, tenor acuan 10 tahun turun 2,4 bps menjadi 6,76%. 

Sementara yield tenor 30 tahun naik 0,8 bps ke level 6,92%. Selisih yield antara tenor 2 tahun dan 10 tahun tercatat sebesar 22,9 basis poin.

Kenaikan yield mencerminkan investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah Indonesia di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah.

Namun penurunan yield di tenor menengah seperti 5 (-6,4 bps) menjadi 6,79% dan 10 tahun (-2,4 bps) menjadi 6,76% menunjukkan mulai munculnya aksi beli setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke 5,25% dan meningkatkan intervensi di pasar obligasi.

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga ikut meredam pasar obligasi domestik dengan alokasi dana Rp2 triliun per hari. Meski begitu, langkah intervensi itu belum mampu menghentikan pelemahan rupiah yang kembali lesu pekan ini. 

Sementara di India, yield obligasi tenor 1 tahun tercatat mengalami lonjakan tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. India juga telah mencatat arus keluar modal asing mencapai US$1,2 miliar sejak perang pecah akhir Februari lalu. 

Standard Chartered memproyeksikan bank sentral India akan menaikkan suku bunga acuan pada Juni sebanyak 50 basis poin sepanjang tahun fiskal ini. 

Sementara, di Filipina, pasar juga memperhitungkan kenaikan suku bunga sekitar 70 bps dalam tiga bulan ke depan seiring inflasi yang melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. 

Jonathan Ravelas, Direktur eManagement for Business and Marketing Services di Manila memperkirakan yield obligasi tenor 10 tahun Filipina bisa mencapai dua digit apabila konflik semakin memburuk. Peso Filipina juga diperkirakan melemah ke 62-63/US$ dalam 6-12 bulan ke depan, bahkan menuju 65 dalam dua tahun, seperti dikutip Bloomberg News

Harga Minyak Menahan Ekonomi Kawasan

Kondisi menggambarkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang di Asia kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat. Selama harga minyak bertahan tinggi, dan yield obligasi AS masih terus merangkak naik, mata uang negara berkembang seperti rupiah, peso, dan rupee akan tetap rentang mengalami pelemahan. 

Kondisi ini membuat bank sentral di kawasan berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, harus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tapi di sisi lain kenaikan suku bunga yang ditempuh berisiko menekan pertumbuhan ekonomi. 

Bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas, tercatat sudah lebih dulu menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5% pada April, dari 4,25% pada Maret. Dengan harga minyak yang tetap tinggi, peso melemah, dan inflasi sudah berada di atas target, BSP memilih bertindak cepat untuk menjaga ekspektasi inflasi dan mencegah efek lanjutan.

Sementara bank sentral Indonesia, BI, kemarin mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan ke level 5,25%. Kebijakan ini mengejutkan pasar lantaran kenaikannya melampaui proyeksi pasar di level 5%. 

Namun bagi Indonesia, tantangan terbesar saat ini bukan cuma datang dari gejolak global dan ketidakpastian geopolitik. Lebih dari itu, langkah pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan ekonomi ke depan berperan sangat penting. 

Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengatakan pemerintah akan meningkatkan subsidi energi hingga Rp100 triliun tahun ini, akibat menanggung kenaikan harga minyak demi menjaga daya beli masyarakat. 

Para ekonom menilai subsidi ini justru berpotensi menggeser alokasi belanja lain dan menyulitkan pemerintah dalam menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Jika tekanan eksternal terus berlanjut sementara pasar masih melihat risiko fiskal terus meningkat, maka pelemahan mata uang kawasan, termasuk rupiah dan kenaikan yield obligasi berpotensi bertahan lebih lama. 

(dsp/aji)

No more pages