Keandalan batu bara semakin digarisbawahi oleh perang Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz, yang telah memicu guncangan pasokan minyak dan gas dan memaksa beberapa negara kembali menggunakan batu bara agar tetap dapat menjaga pasokan listrik.
China, pengguna batu bara terbesar di dunia, mencatat lonjakan proyek baru dan yang diaktifkan kembali hingga mencapai rekor 162 gigawatt, dan memiliki pipeline lebih dari 500 gigawatt yang sedang dalam pengembangan meski pemerintah telah berjanji akan mengurangi konsumsi batu bara.
Secara global, hampir 70% unit yang dijadwalkan untuk dinonaktifkan pada tahun 2025 tidak melakukannya, sebagian besar karena kekhawatiran akan keamanan energi, menurut laporan tersebut.
Namun, dunia tetap berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi bersih.
Meski pengguna utama seperti China, India, dan Indonesia mengalami peningkatan kapasitas masing-masing sebesar 6%, 4%, dan 7% pada tahun 2025, pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh dunia mencapai rekor terendah, dan lebih sedikit negara yang mengusulkan atau membangun pembangkit baru dibandingkan tahun sebelumnya, kata GEM.
Energi bersih juga melampaui pangsa batu bara dalam pasokan listrik dunia tahun lalu, menurut lembaga think tank energi Ember.
“Tantangan utama menjelang tahun 2026 bukanlah ketersediaan alternatif, melainkan berlanjutnya kebijakan yang memperlakukan batu bara sebagai sesuatu yang diperlukan meski sistem tenaga listrik semakin bergerak menjauh darinya,” kata Christine Shearer, manajer proyek pelacak pembangkit listrik tenaga batu bara global GEM.
(bbn)































