Sentimen ini tak hanya menekan pasar valuta asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat anjlok hingga 4%, menjadi pelemahan terdalam di antara bursa utama Asia.
Di pasar obligasi, tekanan jual turut mendorong yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik 16,3 basis poin ke 6,85%. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor terhadap aset keuangan Indonesia di tengah gejolak global dan tekanan terhadap rupiah pagi ini.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) tampaknya masih mengandalkan strategi “smart intervention” di pasar valas dan obligasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Meski begitu, ruang BI untuk tetap dovish kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Jika harga minyak bertahan tinggi dan dorongan pertumbuhan pemerintah mulai memicu tekanan inflasi yang lebih besar, maka BI diperkirakan akan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
(dsp/aji)



























