Logo Bloomberg Technoz

ASEAN Dikepung Inflasi, Bank Sentral Bersiap Naikkan Bunga

Redaksi
14 May 2026 07:32

Inflasi April 2,42% secara tahunan, makanan dan emas perhiasan sumbang inflasi terbesar (Diolah)
Inflasi April 2,42% secara tahunan, makanan dan emas perhiasan sumbang inflasi terbesar (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Lonjakan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah sepertinya dapat mengubah arah kebijakan moneter di negara-negara Asia Tenggara. 

Setelah lebih dari dua bulan menghadapi guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern, bank-bank sentral di kawasan ASEAN kini sedang menghadapi dilema yang sama: menjaga inflasi tetap terkendali tanpa semakin menekan pertumbuhan ekonomi yang sudah mulai melemah sejak awal tahun 2026.

Memang, respons bank sentral ASEAN saat ini masih beragam. Singapura dan Filipina sudah mulai mengetatkan kebijakan moneternya pada April. Sementara Indonesia, Thailand, dan Malaysia masih memilih menahan diri.


Namun, Bloomberg Economics memperkirakan perbedaan arah kebijakan ini tidak akan berlangsung lama. Jika harga minyak tetap tinggi hingga pertengahan tahun, hampir seluruh bank sentral di kawasan kemungkinan akan dipaksa masuk ke fase pengetatan baru.

Sebagai catatan, harga energi saat ini masih bertahan di atas US$100 per barel. Bagi negara ASEAN kenaikan harga minyak menjadi ancaman serius karena hampir seluruh negara ASEAN masih sangat sensitif terhadap inflasi energi dan pangan.