Logo Bloomberg Technoz

El Nino dan Perang Iran Tekan Produksi Beras Dunia, Harga Naik

Redaksi
13 May 2026 18:50

Warga memiih beras yang dijual di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (25/7/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga memiih beras yang dijual di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (25/7/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Produksi beras dunia diperkirakan akan mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Proyeksi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap ketahanan pangan global dan tekanan inflasi, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada komoditas tersebut sebagai makanan pokok.

Menurut laporan terbaru Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi beras global pada musim 2026/2027 diproyeksikan hanya mencapai sekitar 538 juta ton, seperti dikutip dari Bloomberg News

Angka ini menjadi penurunan pertama dalam 11 tahun terakhir, di tengah permintaan konsumsi dan perdagangan yang justru terus mencetak rekor. Kondisi tersebut diperkirakan akan menggerus cadangan stok beras dunia.


Penurunan produksi terbesar diperkirakan terjadi di India, Myanmar, dan Amerika Serikat (AS). Di negara-negara tersebut, hasil panen diproyeksikan turun hingga 15% dibanding tahun sebelumnya karena petani mulai mengurangi luas tanam. Lonjakan harga pupuk dan energi menjadi faktor utama yang membebani biaya produksi pertanian.

Kenaikan biaya ini tidak lepas dari dampak perang di Iran yang mengganggu pasokan energi dan pupuk global. Bagi petani di Asia, situasi tersebut menjadi pukulan berat karena budi daya beras sangat bergantung pada penggunaan pupuk dalam jumlah besar. Sejumlah petani kecil bahkan mulai mempertimbangkan untuk menunda atau membatalkan musim tanam karena biaya operasional dinilai terlalu tinggi.