Isu Dagang, Taiwan, sampai Chip AI Warnai Pertemuan Trump & Xi
Redaksi
14 May 2026 08:45

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah rivalitas yang makin tajam antara Amerika Serikat (AS) dan China, lawatan Presiden Donald Trump ke Beijing pekan ini tampaknya tidak sepenuhnya bertujuan untuk memperbaiki hubungan kedua negara terkuat tersebut. Melainkan, bagaimana keduanya ingin memastikan persaingan tidak berubah jadi benturan terbuka yang mengguncang perekonomian global.
Hampir satu dekade sejak kunjungan presiden AS terakhir ke China, konstelasi dunia telah berubah drastis. Perang dagang, pembatasan teknologi, konflik geopolitik, hingga perebutan pengaruh global membuat hubungan Washington dan Beijing memasuki fase baru: saling bergantung, tapi juga curiga satu sama lain.
Seperti biasanya, Trump datang ke Beijing membawa agenda yang kelihatan sangat pragmatis. Dia membutuhkan kemenangan ekonomi yang bisa dijual ke publik domestik AS, seperti peningkatan ekspor pertanian AS, pembelian pesawat Boeing, atau stabilisasi perdagangan di tengah perlambatan ekonomi AS.
Di balik pragmatisme itu, terselip juga kepentingan yang jauh lebih besar, yakni memastikan rantai pasok industri strategis AS tidak kembali lumpuh akibat dominasi China.
Tak heran kalau dalam lawatan kali ini Trump membawa serta 12 orang delegasi yang terdiri dari pemimpin perusahaan besar.



























