Logo Bloomberg Technoz

Defisit Fiskal, MSCI, dan Harga Minyak Menekan Rupiah Hari Ini

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 May 2026 09:35

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah semakin melemah dan tampaknya mulai kehilangan pijakannya di tengah tekanan eksternal dan sentimen domestik yang terus berkelindan. 

Pada perdagangan Rabu pagi (13/5/2026), rupiah dibuka melemah 0,14% ke posisi Rp17.525/US$. Tak lama berselang, pelemahannya bertambah menjadi 0,16% ke posisi Rp17.528/US$, dan menempati posisi kedua terlemah di kawasan. 

Kenaikan harga minyak mentah akibat ketidakpastian penyelesaian perang masih membayangi pergerakan mata uang kawasan yang mayoritas bergerak di zona merah. 

Pergerakan mata uang kawasan Asia, Rabu (13/5/2026). (Bloomberg)

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang berada di US$107 per barel hari ini masih memicu tekanan di pasar mata uang kawasan. Bagi Indonesia, kondisi ini sangat sensitif, karena masih bergantung pada impor energi dan memiliki struktur subsidi yang rentang terhadap kenaikan harga minyak. 

Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN yaitu subsidi energi berpotensi membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif. Terlebih, adanya penundaaan kenaikan royalti hasil tambang sebagai salah satu jalan keluar penerimaan.