Logo Bloomberg Technoz

Ketika harga minyak naik, biaya transportasi, logistik, produksi, hingga harga bahan pokok ikut terdorong naik. Efeknya tidak cuma terlihat pada inflasi utama (headline inflation), tetapi juga mulai merembet ke inflasi inti melalui kenaikan harga jasa dan kebutuhan sehari-hari.

Sikap Bank Sentral ASEAN

Bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas, tercatat sudah lebih dulu menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5% pada April, dari 4,25% pada Maret. Dengan harga minyak yang tetap tinggi, peso melemah, dan inflasi sudah berada di atas target, BSP memilih bertindak cepat untuk menjaga ekspektasi inflasi dan mencegah efek lanjutan.

BSP kini memperkirakan inflasi rata-rata mencapai 6,3% pada 2026 dan 4,3% pada 2027, keduanya di atas target 2–4%. 

Bloomberg Economics memperkirakan BSP akan menaikkan suku bunga total 175 bps tahun ini, dengan kenaikan berlanjut hingga 2027 jika harga minyak tetap tinggi. 

Begitu juga dengan bank sentral Singapura yang telah memperketat kebijakan moneternya meski ringan, Singapore Overnight Rate Average (SORA), berada di kisaran 1,31-1,41%%. Monetary Authority of Singapore (MAS), memperkirakan inflasi inti dan inflasi utama tahun ini berada di kisaran 1,5-2,5% lebih tinggi dibanding proyeksi sebelum gejolak harga minyak terjadi. 

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi berpotensi jauh lebih tinggi, sehingga MAS mungkin akan kembali memperketat kebijakan nilai tukar pada Juli dan Oktober 2026. 

Sementara, Bank of Thailand (BoT) justru memangkas suku bunga sebelum perang Iran pecah hingga April. Inflasi di Thailand juga masih cenderung terkendali memberi ruang bagi BoT untuk bersikap hati-hati.

Namun, jika harga minyak masih bertahan tinggi, inflasi diproyeksikan menjadi 2,9% dari sebelumnya 0,3%. Dengan proyeksi tersebut, BOT diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 bps tahun ini. 

Di sisi lain, Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di 2,75% sampai tekanan inflasi benar-benar memaksa pengetatan kebijakan. Sejauh ini, guncangan harga minyak belum terlalu berdampak pada inflasi Malaysia yang masih rendah di level 1,7% secara tahunan pada Maret. 

Kenaikan harga energi juga meningkatkan pendapatan pemerintah dari sektor minyak Malaysia, sehingga subsidi bahan bakar masih dapat digunakan untuk meredam dampak domestik. Namun, tetap ada risiko efek lanjutan inflasi karena tingginya permintaan domestik Malaysia berkat investasi berbasis AI dan ekspor elektronik. 

Jika gangguan pasokan minyak global terus berlangsung, Bloomberg Economics memperkirakan BNM mulai menaikkan suku bunga pada Juli, dengan total kenaikan 50 basis poin tahun ini hingga suku bunga mencapai 3,25% pada akhir tahun 2026. 

Sementara di Vietnam, inflasi pada kuartal kedua diperkirakan berada di kisaran 4,5% dan tingkat suku bunga masih berada di 3%.

Inflasi kawasan ASEAN. (Bloomberg)

Kondisi Indonesia

Di kawasan, Indonesia jadi salah satu negara yang paling rentan terhadap tekanan inflasi. Memang, saat ini inflasi domestik masih berada di kisaran target 1,5-3,5%. 

Namun kondisi itu diperkirakan tidak akan bertahan lama. Lonjakan harga energi global berpotensi mendorong inflasi Indonesia melampaui target, setidaknya mulai Juni atau Juli. 

Tekanan terhadap rupiah ini akan memperburuk situasi. Ketidakpastian global akibat konflik Iran membuat investor cenderung menghindari aset negara berkembang, termasuk Indonesia, yang saat ini secara umum sudah dibayangi berbagai sentimen negatif. 

Risiko domestik Indonesia saat ini semakin menambah tekanan pasar, mulai dari kekhawatiran fiskal hingga ancaman penurunan peringkat oleh MSCI, Moody’s, dan Fitch.

Alhasil, rupiah sepanjang Mei telah melemah 0,61%. Jika ditarik lebih jauh, sejak awal tahun rupiah telah tergerus 4,41%. Pelemahan rupiah berpotensi semakin membuat biaya impor energi dan pangan menjadi lebih mahal. Dalam kondisi seperti ini, imported inflation tak terelakkan.

Bloomberg Economics belum memperkirakan BI akan segera beralih ke kenaikan suku bunga. Sebelum guncangan minyak terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah dinilai kurang optimal dan kebijakan moneter dianggap terlalu ketat.

Namun jika inflasi bertahan di atas target, BI kemungkinan mulai mengetatkan kebijakan pada September, terutama jika harga minyak tetap tinggi.

Secara keseluruhan, Bloomberg Economics memperkirakan BI Rate akan naik total 125 basis poin menjadi 6% pada kuartal I-2027, dari posisi saat ini di 4,75%.

Sebagai perbandingan, pada siklus pengetatan 2022–2024, BI mulai menaikkan suku bunga ketika inflasi utama hampir 1 poin persentase di atas target 2–4% saat itu. Total kenaikan mencapai 275 bps, dari 3,5% menjadi 6,25%.

Bahkan setelah inflasi kembali turun pada Oktober 2023, BI masih menaikkan suku bunga tambahan 50 basis poin demi menjaga stabilitas rupiah.

(dsp/aji)

No more pages