Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan Rupiah dan Wanti-wanti Guncangan Industri Tanah Air

Farid Nurhakim
13 May 2026 14:50

Ilustrasi ekspor impor. (Bloomberg)
Ilustrasi ekspor impor. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menanggapi kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp17.500 per US$, kemarin, dan kembali melemah Rp17.519 hari ini, Rabu (12/05/2026). 

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani memandang melemahnya rupiah ini telah menjadi atensi dalam dunia usaha di Tanah Air. Pihaknya mendesak pemerintah harus menanggapinya dengan serius.

“Menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low (ATL/terendah sepanjang masa),” tutur Shinta kepada Bloomberg Technoz, Selasa (12/05/2026). 


Dia menyebut tekanan ini tak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas. Antara lain kenaikan imbal hasil (yield) dari obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat, serta termasuk eskalasi konflik geopolitik yang sudah mendorong terjadinya realokasi modal global (global capital reallocation) menuju aset dolar AS. 

“Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow (aliran modal asing keluar). Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda,” ungkap Shinta.