Logo Bloomberg Technoz

Bagi dunia usaha, lanjut dia, situasi ini pihaknya melihat sebagai guncangan eksternal (external shock) yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung pun meningkatkan biaya impor khususnya, karena struktur industri nasional masih amat bergantung terhadap bahan baku dari luar negeri. 

Shinta menerangkan, hingga kini terdapat kurang lebih 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusinya mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah bakal langsung tercermin pada peningkatan biaya input mata uang tersebut. 

“Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan,” kata Shinta.

Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih berada dalam posisi lemah. Hari ini (13/5/2026) memang stagnan, namun posisinya melampaui angka psikologis di Rp17.519/US$, setelah kemarin melemah cukup dalam 0,42%. 

Tak lama berselang, rupiah offshore kembali melanjutkan pelemahannya 0,01% ke posisi Rp17.521/US$. Indeks dolar AS berada di level 98,32, dan mata uang kawasan masih bergerak beragam dengan kecenderungan melemah, terutama won Korea Selatan. 

Harga minyak mentah Brent kembali melambung ke posisi US$107,17 per barel. Membuat mata uang kawasan yang bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah semakin tertekan. 

(ain)

No more pages