Logo Bloomberg Technoz

Atas Nama Rupiah, Penerbitan SRBI Membengkak

Redaksi
12 May 2026 13:06

Ilustrasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (Diolah)
Ilustrasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter kini tampak semakin bergantung pada penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menopang rupiah yang terus berada di bawah tekanan. 

Sepanjang April, BI semakin agresif memperkuat pertahanan rupiah di tengah gejolak nilai tukar mata uang Garuda. Hal ini tercatat dalam nilai outstanding SRBI yang melonjak menjadi Rp957,91 triliun, naik tajam dari Rp831,21 triliun pada Maret.

Kenaikan Rp126,7 triliun itu menjadi lonjakan terbesar sejak Juli 2024 dan terjadi di tengah pelemahan rupiah yang semakin dalam.


Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tercatat anjlok sepanjang April. Rupiah telah melemah 4,67% sepanjang tahun hingga hari ini, Selasa (12/5/2026). Dengan rincian, pada kuartal I-2026 rupiah melemah 1,79%, lalu sejak awal kuartal II (April), rupiah tergerus paling dalam 2,93% dan menjadi yang terlemah di kawasan pada periode ini. 

Rupiah sentuh rekor terendah sepanjang sejarah pada Selasa (12/5/2026) ke posisi Rp17.513/US$. (Bloomberg)

Kurs JISDOR juga tercatat merosot, dari Rp16.999/US$ pada Maret menjadi Rp17.378/US$ pada April. Artinya, di tengah ekspansi SRBI yang agresif, rupiah ternyata tetap gagal keluar dari tekanan.