Logo Bloomberg Technoz

Kembali Tertekan, Rupiah Ditutup Melemah di Atas Rp17.400/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 May 2026 15:24

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup hari dengan melemah 0,22% ke posisi Rp17.412/US$ dalam perdagangan hari ini, Kamis (11/5/2026).

Rupiah melemah bersama hampir semua mata uang kawasan, kecuali yuan China dan dolar Taiwan. Pelemahan paling dalam terjadi pada peso Filipina, dan baht Thailand menyusul kenaikan harga minyak mentah yang masih bertengger di atas US$100 per barel. 

Pelemahan mata uang kawasan, imbas ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran yang menekan harga minyak. (Bloomberg)

Pelemahan rupiah terjadi menyusul ketidakpastian geopolitik akibat ketidaksepakatan antara AS dan Iran terkait penyelesaian konflik Timur Tengah. Selain itu, dari sisi domestik ketidakpastian kebijakan terkait penarikan royalti hasil tambang juga ikut menambah beban bagi pergerakan rupiah. 


Dari pasar surat utang, terjadi aksi jual pada hampir semua tenor yang ditandai dengan kenaikan imbal hasil (yield). Kenaikan yield paling terlihat pada tenor menengah hingga panjang. Tenor acuan 10 tahun juga naik 1,3 basis poin (bps) ke level 6,61%. Sementara itu, tenor 20 tahun meningkat 1,1 bps menjadi 6,74%. 

Di tenor pendek, pergerakan juga cenderung menguat. Yield tenor 2 tahun naik 2,2 basis poin ke 6,306%, sedangkan tenor 3 tahun melonjak 4,4 basis poin menjadi 6,456%, menjadi salah satu kenaikan terbesar pada kurva imbal hasil hari ini.